Jakarta,BeritaSumbar.com,-Setidaknya pendukung Prabowo tak perlu berdemo karena ada istilah; fiat justitia, fuat coellum (hukum harus ditegakan, sekalipun langit runtuh).

Oleh karena itu, mari ikuti saja proses hukum. Di MK ada 9 hakim yang kredibel yang tak dapat di intervensi. Jangan sidang gugatan ini kembali dipolitisasi.

Dengan menghalangi sidang ini maka saja saja menolak pemilu. Dan ini menciderai sistem demokrasi Indonesia sendiri.

Menurut saya semua tergantung bukti dari pemohon atau penggugat. Kan bukti bukan hanya looking (melihat), listening (mendengar) tapi bukti otentik secara administrasi. Nanti pengumunannya 14 hari setelah sidang dimulai.

Perkara secara formil dan meteriil memang menarik ditunggu. Tapi saya lihat ada beberapa saksi 02 yang dihadirkan tak ada relevansi. Age Quod Agis (Lakukanlah apa yang dapat anda lakukan), tidak salah untuk mencari kebenaran.

Tapi juga disatu sisi perlu dipelajari, didalami, dikaji dan dianalisis gugatan ini, apakah laporan pihak penggugat bisa menang atau kalah? sejauh mana kekuatan hukum gugatan tersebut? Berapa kasalahan yang ditemukan? Seberapa besar kememangan tersebut? bagaimana pihak lawan membantah argumen tim 02? adakah titik lemah dari gugatan ini? apakah kesaksian para saksi layak dipercaya? berapa bukti yang dibawa ke MK? siapkah menerima resiko jika gugatan ditolak? bagaimana saksi 02 mampu meyakinkan 9 hakim? Apakah ada konspirasi di dalamnya? Dan masih banyak lagi yang dipertanyakan.

Begitu pula analisis SWOT perlu dilakukan yakni; Strengthen (kekuatan), perlu dilihat seperti apa kekuatan lawan, Weakness (kelemahan) dimana titik lemah dari gugatan ini. Oppurtunity (kesempatan baik), kapan kesempatan yang baik untuk menginterupsi dan memperkuat dalil yang ada dan Timing (Waktu yang tepat), sudahkah tepat untuk mengungkap kebenaran yang ada). Pikirkanlah juga hika kedapatan hoaks atau fake news (berita bohong) yang diberikan, maka sesuai dengan UU yang berlaku bisa terancam 7 tahun penjara. Barangkali dalam perkara ini, perlu dipikirkan dampak dan resiko yang dihadapi.

Penulis: Jerry Massie (Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies)

loading...