Padang – Peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat (Sumbar) Ade Rakhmadi mencoba memanfaatkan minyak jelantah atau sisa minyak sawit sebagai salah satu bahan pakan burung puyuh.

“Minyak jelantah yang digunakan tentunya telah dimurnikan agar untuk menghindari sifat karsinogenik atau racun terhadap makhluk hidup semisal puyuh,” katanya, di Padang, Minggu.

Dia menyebutkan sebelum mencampurkan minyak jelantah tersebut ke dalam ransum atau pakan puyuh, akan melalui tiga tahap pemurnian yakni pemisahan Gum, netralisasi, dan pemucatan.

Pemurnian Gum dimaksudkan untuk memisahkan lendir-lendir zat seperti karbohidrat, air atau protein dengan cara pemanasan.

Kemudian netralisasi yakni upaya memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak menjadi senyawa semacam sabun.

Setelah kedua tahapan tersebut dilakukan proses pemucatan yang bertujuan untuk memurnikan zat warna yang tidak disukai minyak.

Dalam proses pemucatan tersebut dilakukan proses penyerapan dengan zat penyerapan atau adsorban berupa lidah buaya.

“Setelah minyak tersebut dimurnikan kemudian diaplikasikan pada beberapa ekor burung puyuh petelur,” katanya.
Maksudnya minyak jelantah tadi dicampurkan ke bahan pakan seperti jagung, dedak, bungkil kelapa.

Kemudian campuran pakan tersebut diberikan pada puyuh petelur dan secara performa nilainya tidak berbeda dari puyuh yang ditambah minyak non jelantah.

Dengan catatan katanya taraf penggunaan minyak jelantah dalam satu pakan tersebut sebesar satu persen.

Artinya bila pakan memiliki bobot 1 Kg maka besar minyak jelantah yang ditambahkan sebesar 10 gram.

Sementara itu Pakar Pakan Puyuh Unand Dr. Ade Djulardi menjelaskan penggunaan minyak jelantah tersebut dalam ransum berfungsi sebagai penghasil energi bagi puyuh.

Dalam hal ini minyak jelantah berfungsi sebagai pengganti senyawa minyak sawit yang biasa ditambahkan ke dalam ransum.

Secara keseluruhan penemuan ini masih terus diperkuat perkembangannya, Ucapnya.

 

Sumber: Antara/Oleh M R Denya Utama