BeritaSumbar.com,-Santri Pondok Modern Darussalam Gontor selalu sibuk dengan berbagai aktivitas. Pagi sebelum mentari menampakkan wujudnya mereka sudah memenuhi kamar mandi untuk membersihkan badan dan pakaian. Setelah itu memenuhi masjid untuk beribadah.

Kegiatan tak pernah kosong sampai mereka tidur pada pukul 22.00 WIB. Bahkan di saat santri tidur pun ada yang berpatroli. Mereka adalah penjaga malam. Yaitu santri yang berjaga di beberapa wilayah strategis Pondok.

Staf keamanan Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dan Pengasuhan Santri mengendarai sepeda mengawasi situasi pondok. Bahkan Pimpinan Pondok terkadang ikut berjaga malam. “ Al-Ma’had la yanam abadan .” Pondok tak pernah tidur. Begitu untaian hikmah yang terpatri di benak 20 ribuan santri dan jutaan alumnus pesantren yang usianya sudah 93 tahun ini.

Di tengah kesibukan itu, pada era 1970-an, ada dua orang santri yang berjalan menuju rumah pendiri Pondok Modern Gontor KH Ahmad Sahal (1901-1977). Mereka adalah (alm) Imam Budiono dan Marito. Lokasinya di samping masjid Jami’, bangunan kebanggaan masyarakat Gontor.

Masuk ke dalam rumah, tampak Pak Sahal –sapaan akrabnya– sedang duduk di meja makan. Saudara tertua dari tiga pendiri Pondok Gontor itu memperhatikan hidangan makan yang tersaji. Salah satunya adalah empal atau daging sapi goreng.

“Bu Tik,” kata Pak Sahal memanggil pendamping hidupnya yang bernama Sutichah (1913-2000). “Apa lauk yang diberikan untuk para santri?”

Sutichah menyebutkan sejumlah lauk pauk untuk makan siang para pencari ilmu. Tidak ada menu daging sapi. “Lauk daging ini buat santri saja,” ujar Pak Sahal.

Kebetulan di sana ada Imam Budiono dan Marito. Dua orang itulah yang mendapat limpahan lauk dari meja makan Pak Sahal. Kisah itu saya dengar langsung dari Marito yang dengan penuh semangat menuturkannya kepada sejumlah alumnus dalam sebuah pertemuan di Depok Jawa Barat.

Berbagi adalah tradisi orang-orang bijak. Dilakukan dengan kebesaran hati. Dinikmati oleh orang dengan rasa terima kasih. Berdampak dan menjadi penuh arti. Diridhai oleh Ilahi Rabbi. Bisa jadi sesuatu yang diberikan adalah hal kecil, tapi berdampak besar. Atau sebaliknya.

Bukan hanya kepada sesama manusia, berbagi juga sangat mungkin dilakukan untuk binatang. Hujjatul Islam Imam Ghazali membiarkan lalat menyedot tinta penanya saat menulis Ihya Ulumiddin , magnum opus yang dibaca jutaan orang selama berabad-abad, seperti yang dituturkan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul Ibad .

Apalah arti seekor lalat yang dianggap pengganggu. Suaranya terkadang memecah konsentrasi saat seseorang fokus mengerjakan sesuatu. Kehadirannya tidak diharapkan.

Namun di mata sang alim, ciptaan Allah ini sangat dihargai. Sehingga, bisa jadi, karena kebaikan dan ketulusan semacam ini, karya Sang Hujjah berdampak besar bagi kehidupan tasawuf yang melampaui batas wilayah dan negara. Bisa jadi karena hal itu pula sang imam masuk surga, seperti yang diceritakan Syekh Nawawi dalam kitab yang sama.

Meski sudah banyak ibrah tentang berbagi, banyak orang masih belum bisa melaksanakan tradisi yang baik ini. Kehendak untuk menguasai dan memonopoli mendominasi hati banyak orang.

Berbagi dengan alam adalah sesuatu yang kian langka. Banyak orang semakin berambisi untuk menguasai setiap jengkal tanah sehingga merusak ekosistem. Dampaknya, luas hutan semakin berkurang. Berganti menjadi bangunan beton yang semakin mempersempit resapan air dan tempat aneka tetumbuhan mengakar.

Berdasarkan data Universitas Marryland yang dikeluarkan Global Forest Watch, 2017 merupakan tahun kedua terburuk dalam berkurangnya luas tutupan hutan dunia jika dilihat dari tahun 2001.

Pada tahun itu, seluas 15,8 juta hektare hutan telah berubah menjadi tempat bangunan. Data ini juga menunjukkan angka kehilangan tutupan hutan di Indonesia pada 2017 telah berkurang cukup drastis dari 2016. Ini adalah angka terendah sejak 2014. Bisa jadi karena kerakusan semacam ini yang mengakibatkan banjir di mana-mana, seperti yang terjadi saat ini di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kerugian materil sungguh banyak.

Bisa jadi karena keengganan untuk berbagi pula yang menyebabkan suasana pemilihan presiden menjadi gaduh. Penuh dengan ambisi untuk menguasai dengan seribu macam argumen yang menopangnya.

Ambisi semacam ini menghilangkan rasa persaudaraan. Saling mencaci menjadi tradisi. Kekalahan berbuah sakit hati. Beda pilihan menjadi alasan memusuhi. Kekacauan sengaja terjadi dengan maksud menuju anarkhi.

Bukankah sudah banyak ibrah masa lalu tentang bagaimana orang tak mau berbagi. Ada yang tamak kekuasaan sehingga menganggap dirinya sebagai tuhan, seperti Fir’aun di era Nabi Musa mendakwahkan tauhid kepada Bani Israil. Ada Abrahah yang tak mau berbagi kekuasaan kepada orang Arab, sehingga hendak menghancurkan Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Belum lagi kisah Kaum Nabi Shaleh yang tak puas dengan susu yang berasal dari onta. Sehingga anugerah dari Allah itu disembelih. Allah murka. Kaum yang rakus itu akhirnya dibumihanguskan.

Hanya bangunan dalam bukit batu di Madain Shaleh, Arab Saudi, yang tersisa dan menjadi saksi keberadaan kaum ini. Sungguh banyak kisah mereka yang enggan berbagi, rakus dalam menjalani kehidupan, dan berakhir dalam nestapa.

Alquran banyak menjelaskan tentang fadilah berbagi. Ganjaran yang dijanjikan Allah sangat besar, ratusan kali lipat dari nilai yang diberikan kepada orang lain. Bahkan lebih besar lagi (Al-Baqarah: 261).

Lagi pula, memberi sama sekali tidak membuat harta berkurang, apalagi menjadi miskin. Dengan memahami ayat tersebut, memberi dan berbagi, justru membuat kita semakin kaya. Nama mereka yang senang berbagi akan selalu ada dalam hati, seperti Pak Sahal, Imam Ghazali, dan masih banyak lagi.

OLEH ERDY NASRUL
EDITOR REZKI ARYENDI.SH

loading...