Anthony Budiawan

Jakarta,-Kurs rupiah terus mengalami pelemahan belakangan ini, mendekati Rp 14.000 per dolar AS. Yang jadi pertanyaan, apa yang menjadi penyebab dari fenomena ini? Kenapa rupiah jadi terlemah di Asia?

Permasalahannya sederhana saja. Rupiah-dolar AS ini mengikuti hukum demand dan supply. Kalau kita lihat pekan lalu, walau tidak besar, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sales) saham sekitar Rp1,5 triliun.

Di samping itu, juga terjadi penjualan obligasi bersih beberapa triliun rupiah. Artinya, ada dana asing yang keluar/outflow, dan outflow itu tentu saja menekan rupiah. Sementara itu, alasan yang diberikan atas terpuruknya rupiah hanya itu-itu saja, yaitu terkait naiknya suku bunga The Fed dan lain-lain. Padahal outflow bisa saja terjadi karena profit taking pihak investor luar yang menguasai pasar saham dan obligasi Indonesia. Sepertinya, bursa saham dan obligasi kita sudah “dimainkan” oleh asing: capital market kita ini sudah jadi ajang cari untung buat mereka.

Di lain sisi, kurs rupiah sangat dipengaruhi neraca perdagangan. Dari merosotnya nilai rupiah dalam seminggu ini, ada indikasi neraca perdagangan dan transaksi berjalan pada April tidak sebaik Maret. Ekspor kita didominasi oleh industri berbasis komoditas seperti sawit, karet, dan batubara, yaitu sekitar 35 persen dari total ekspor kita. Fluktuasi harga komoditas tersebut sangat memengaruhi nilai ekspor kita, dan penurunan harga komoditas akan menekan rupiah.

Di lain pihak, Indonesia sudah menjadi negara net importer minyak mentah dan BBM sehingga kenaikan harga minyak mentah dunia akan meningkatkan defisit perdagangan migas, dan akan menekan rupiah.

Ketergantungan dengan komoditas ini membuat ekonomi kita tidak berdaya ketika harga komoditas runtuh sejak 2012 sampai dengan 2016. Anjloknya harga komoditas dunia seperti batubara, minyak sawit, karet membuat ekspor (barang) kita turun dari 203 miliar dolar AS pada 2011 menjadi hanya 145 miliar dolar AS pada 2016. Penurunan ini membuat pertumbuhan ekonomi turun menjadi  4,78 persen sampai 5,01 persen saja. Seiring anjloknya ekspor ini, rupiah juga merosot terus dari sekitar Rp8.500 per dolar AS pada pertengahan 2011 menjadi Rp14.000 per dolar AS saat ini.

Sementara itu, kita masih belum mampu mengangkat kinerja industri manufaktur untuk meningkatkan ekspor. Yang terjadi malah sebaliknya, yaitu deindustrialisasi. Sejauh ini, belum terlihat industri manufaktur apa yang dapat menjadi andalan ekspor jangka panjang. Tidak ada road map sampai ke sana, bagaimana memperbaiki iklim investasi dalam negeri agar investor asing tidak lari ke negara tetangga seperti Malaysia, Thailand atau Vietnam. Atau bagaimana menciptakan pengusaha manufaktur lokal yang kompetitif di pasar internasional.

Pembangunan industri manufaktur kita sepertinya stagnan, bahkan mundur, sejak reformasi 1998. Pemerintah harus mempelajari kenapa hal tersebut bisa terjadi. Kita mungkin perlu belajar dari Vietnam, negara yang jauh lebih kecil dari Indonesia (dengan jumlah penduduk sekitar 36 persen dari Indonesia), dan yang baru membuka ekonominya tahun 1986.

Vietnam berhasil meningkatkan ekspornya menjadi lebih besar dari ekspor Indonesia. Ekspor Vietnam tahun 2016 sebesar 192,2 miliar dolar AS, dan Indonesia hanya 177,9 miliar dolar AS. Kok bisa?

Yang juga mengkhawatirkan, neraca perdagangan jasa mengalami defisit besar. Khususnya jasa transportasi barang (baca: sektor pelayaran) yang dikuasai asing. Ketika neraca perdagangan barang mengalami surplus, tetapi jasa transportasinya mengalami defisit besar. Artinya, transportasi barang tujuan ekspor kebanyakan menggunakan jasa perusahaan asing, yang tentu saja ikut membuat kurs rupiah tertekan.

Pada 2017, jasa transportasi defisit 6,8 miliar dolar AS, mayoritas dari defisit transportasi barang sebesar 5,6 miliar dolar AS. Oleh karena itu, selain manufaktur, pemerintah harus mempunyai roadmap yang jelas untuk mengurangi defisit sektor transportasi barang (pelayaran) agar mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Dampaknya, pertumbuhan ekonomi kita akan sulit mencapai 5,4 atau 5,3 persen. Kecuali jika harga komoditas, khususnya batubara, karet, minyak sawit membaik terus.

Oleh : Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)