Ditulis Oleh : Nur Bowo

“Alhamdulillah, merdekaaa…!’’ seru puluhan santri dan guru Pondok Pesantren Dr Mohammad Natsir Kabupaten Solok sambil mengangkat tangan terkepal, menyambut kucuran air dari sumur asrama, Kamis, 17 Agustus lalu.

Hari itu, mereka ibarat ‘’memproklamirkan kemerdekaan’’ dari ketergantungan pada air bandar (parit) untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus).

Sebelumnya, air selokan terpaksa jadi andalan asrama, lantaran aliran air PDAM (perusahaan daerah air minum) tak sampai di ketinggian asrama, dan sumur juga belum tersedia. Warga asramapun memanfaatkan air dari parit yang dialirkan ke penampungan.

Dulu, semasa ninik-mamak, air sungai dan parit di dataran tinggi Solok, masih jernih. Namun kini, seiring kian banyaknya penduduk dan alih fungsi lingkungan, air parit sudah banyak mengandung cemaran domestik.

Kabar memprihatinkan dari Jorong Batubagiriak, Kenagarian Alahan Panjang, Kec Lembah Gumanti, itu sampai ke Sekretaris Umum Dewan Dakwah, Avid Solihin, yang segera meminta Laznas (Lembaga Amil Zakat Nasional) Dewan Dakwah membantunya.

Bersama Dewan Dakwah Sumatera Barat, Laznas Dewan Dakwah turun ke Lembah Gumanti. Hingga tiga pekan kemudian, alhamdulillah, air sumur nan jernih dan melimpah mengalir di asrama putri Pesantren Natsir.