Oleh : Arie Alfikri*

Pengguna Facebook di Indonesia sudah begitu masif. Menurut laporan riset We Are Social dan Hootsuite yang dirilis April 2017, Indonesia merupakan negara peringkat keempat dengan pengguna Facebook terbanyak di dunia dengan jumlah 111 juta pengguna. Peringkat pertama ditempati Amerika Serikat, kedua India, dan ketiga Brazil.

Banyaknya pengguna Facebook di Indonesia tentu menjadi potensi targetisasi bagi penggiat marketing. Tak ketinggalan penggiat marketing politik. Dari sudut pandang praktisi marketing politik, 111 juta pengguna Facebook adalah potensi electoral yang bisa dikonversi menjadi voters (pemilih). Pengguna Facebook bisa ditarget untuk menjadi objek sosialisasi maupun kampanye politik.

Cerita sukses kandidat politik yang menggunakan Facebook sebagai media kampanye sudah banyak terdengar. Kemenangan Obama melawan Mccain dulu, tak terlepas dari “Facebook Effect”. Dua juta simpatisan online yang bertindak sebagai sukarelawan selama masa kampanye berhasil dihimpun Obama melalui Facebook. Atau tidak usah jauh-jauh ke Amerika, kemenangan Presiden Jokowi di Pilpres 2014 lalu salah satunya disebabkan oleh kepiawaian tim kampanye Jokowi-JK dalam menggunakan Facebook. Selain punya banyak buzzer dan cyber army, Jokowi banyak memanfaatkan Facebook Advertising untuk berkampanye. Tak tanggung-tanggung, Jokowi bahkan memasang iklan video di halaman log out Facebook yang diduga menghabiskan budget 8 milyar per hari.

Penulis sendiri juga merasakan keampuhan Facebook Advertising ketika mengkampanyekan pasangan F-Win di Pilkada Payakumbuh 2017 lalu. Massa mengambang yang didominasi oleh pemilih pemula dan generasi muda diasumsikan banyak berdomisili di Payakumbuh Barat, daerah basis kompetitor F-Win. Oleh karena itu, budget puluhan juta harus “disedekahkan” kepada Mark Zuckerberg demi membombardir puluhan ribu pengguna Facebook dengan targetisasi “who live in Payakumbuh, Men and Women aged 18-35, mobile only”. Segmentasi ini terus penulis targetisasi dengan konten-konten kampanye F-Win melalui Facebook Page yang saban hari mereka akses melalui gadget. Akhirnya, meskipun F-Win kalah di Payakumbuh Barat, namun kekalahannya tidak telak. Sebab pasangan F-Win mampu mendulang suara dari segmentasi ini yang cenderung bersifat apolitis dan tidak primordial.

Facebook Advertising bisa menjadi begitu ampuh karena menawarkan fitur-fitur targetisasi. Calon pemilih bisa ditarget berdasarkan lokasi, gender, usia, minat, device, koneksi, pendidikan, profesi, behaviour, dan seterusnya. Untuk audiences yang masih muda bisa ditawarkan konten-konten gaul dan bahasa copywriting yang sesuai dengan dunia mereka. Untuk kalangan terpelajar bisa ditawarkan konten yang lebih berat, akademik dan intelektual.

Pilkada 2018 dan Pileg 2019 semakin dekat. Bagi para kandidat kepala daerah maupun bakal calon legislator sudah seharusnya mulai melirik Facebook Advertising sebagai media marketing politik. Dibandingkan beriklan di media konvensional, facebook advertising jelas lebih efektif, murah, tertarget dan variatif.

Era sekarang, disrupsi digital terus terjadi. GoJek mendisrupt Blue Bird. E-Commerce mendisrupt Glodok dan Mangga Dua. Media online mendisrupt media konvensional. Jika masih mempertahankan fenomena marketing masa lalu, bersiap-siaplah menelan pil pahit kekalahan.

*Penulis adalah Praktisi Facebook Advertising.