Oleh: Erizal

Saya berkesempatan mengiringi Fahri Hamzah dari Jakarta ke Medan, pulang-pergi. Bagi saya, ini perjalanan pertama. Sering bertemu, tapi belum pernah berjalan bersama. Apalagi sehari sebelumnya, untuk kesekian kalinya, Fahri Hamzah diinterupsi koleganya, dalam rapat paripurna.

Saya habis analisis tentang Fahri Hamzah dan koleganya ini. “Di ma ka tibo selah lai”. Di perpanjang bisa panjang, di perpendek bisa pendek. Masing-masing ingin diperpanjang, ya sudah. Bikin saja negara sendiri, hukum sendiri. Lalu, apa bisa damai? Belum tentu. Tetap bisa walk out.

Di perjalanan, kami mengobrol santai dalam suasana Ramadhan yang syahdu. Sebetulnya, saya lebih banyak mengamati dari jauh saja. Fahri Hamzah, memang sudah menjadi milik publik. Jadi tak banyak juga waktu ngobrol. Tiap saat ada saja yang minta wefie, menyapa, dan hahahihi.

Mungkin, karena syahdunya Ramadhan. Orang jadi mudah menyapa. Senyum jadi mudah mengembang. Fahri Hamzah juga malas menunggu di ruang VVIP. “Nggak bisa ngopi, “katanya. Jadilah, dia juga berjalan di bawah. “Fahri, fahri…, “bisik orang. Ada yang langsung cipika-cipiki.

Akhir-akhir ini Fahri Hamzah semakin terkenal. Soal ketok palu hak angket KPK, ditolak massa bergolok di Sulut, masalah “istilah” buat tenaga kerja Indonesia, tampil gagah dalam Aksi Bela Islam, menolak senjata laras panjang masuk ruang DPR, dan masalah dengan koleganya itu.

Fahri Hamzah punya paten sendiri. Dia melawan arus. Kokoh dalam pendirian, dan cepat meminta maaf, jika tersalah. Meski bisa membela diri, tak ada basa-basi. Istilah “babu” langsung dihapus, ringan menjabat tangan AM Fatwa yang emosi. Tahu dikeroyok, dia masih bisa tertawa.

Sebanyak yang suka, sebanyak itu pula yang tidak. Seberapa banyak? Entahlah. Bisa saja Fahri Hamzah mengklaim, seperti Bapak Nganu itu. Bahwa dia paling banyak disukai ketimbang dibenci. Maka dia sangat yakin membawakan diri. Buktinya suaranya naik dari pemilu ke pemilu.

Harus diakui, energi Fahri Hamzah itu sangat besar. Istilah Andi Rahmat, manusia publik. Yakni, orang yang apabila ada di tengah massa, keramaian, energinya bukan berkurang, tersedot, tapi bertambah, full, secapek apapun tubuhnya. Bak baterai, langsung ngecas saat bertemu massa.

Tak ada istilah gugup, grogi, dalam forum apapun. Lokal, nasional, maupun internasional. Formal, maupun informal. Selalu punya bahan, pandai berbicara, dan tidak kaku. Di bandara beli buku, buku itu diberikan kepada Wagub Sumut. Kebetulan buku itu tentang narkoba pula. Cocok.

Fahri Hamzah pernah mengaku sudah letih menjadi anggota DPR. Capek, ngomong terus. Kata koleganya, Fadli Zon, “mungkin Fahri mau jadi gubernur atau menteri.” Fahri Hamzah mau bikin talk show kayak Ahok. Itu diulanginya lagi, saat kunjungan ke Medan. Berarti, Fahri serius.

Artinya, dia tidak sedang menyindir Ahok, yang mengatakan itu saat sudah kalah pilkada, sebelum dinyatakan bersalah dan ditahan. Dengan tekanan luar-dalam, wajar saja, Fahri Hamzah mulai capek. Tapi, sebagai manusia publik, energinya akan full lagi, saat jalan demokrasi terusik.

Suaranya seperti mau habis membakar semangat mahasiswa di UIN Medan, dengan tema kepemimpinan kaum muda. Kalau saya jadi Fahri, saya tak akan sanggup berpuasa dalam situasi itu. Berpidato keras berkali-kali. Dia juga terlihat letih, tapi ngecas lagi dan lagi, berkali-kali juga.

Tubuhnya tentu juga letih. Karena itu mudah tertidur dalam waktu-waktu jeda dan lapang. Istilahnya, mojok. “Mojok dulu bentar ya, Jal.” Itu artinya dia mohon izin dulu tidur. Tidak harus di kasur, bisa di kursi itu, tapi agak di pojok. Sebentar, sudah terdengar irama tidurnya yang lelap.

Lain waktu, Fahri Hamzah juga mau jadi marbot setelah pensiun. Istilah lain, garin, orang yang menjaga masjid. Membersihkan masjid, azan setiap waktu shalat, dan bahkan langsung jadi imam dan makmum sekaligus jika tak ada jamaah. Itu diungkapnya, pasti saat dia mulai kesepian.

Di Medan, Fahri Hamzah menangis di tengah dialog di hadapan para aktivis KAMMI. Ini pertama juga buat saya. Fahri Hamzah menangis, itu head line. “Jangan tusuk saya dari belakang, “rintih Fahri. Dia meyakinkan hingga suaranya terserak. Aktivis KAMMI tahu maksudnya. Fahri tampak mengiba, energinya habis. Maka jika Fahri mulai melemah, itu berarti dia mulai kesepian. Jangan menyerah Bang Fahri!