Payakumbuh,BeritaSumbar.com,-Kemampuan menulis saat ini sudah menjadi syarat penting dalam segala profesi. Mau jadi pengacara,  jadi jaksa, atau jadi hakim? Ya, perlu menulis. Mau jadi notaris apalagi. Bahkan, untuk menjadi petani dan peternak saja di masa sekarang harus pintar menulis. Begitu juga bagi yang punya usaha industri rumahtangga (home industry) atau usaha kecil dan menengah lainnya. Apalagi kalau ingin mengem­bangkan bisnis online lewat internet.” Demikian disampaikan Yulfian Azrial dalam Acara Pelatihan Jurnalistik dan Kepenulisan di SMP Negeri 1 Payakumbuh  Sabtu 25 Nopember lalu.

Adapun Rangkaian acara Pelatihan Jurnalistik dan Kepenulisan ini untuk tahap pertama dihadiri 40 siswa terbaik utusan kelas  7 dan Kelas 8. Acara putaran pertama ini digelar selama tiga hari 25- 27 Nopember 2017 kemaren, dan akan terus dilanjutkan pada tahapan berikutnya.
“Kegiatan di kesempatan pertama ini kita fokuskan untuk Dasar-Dasar Kepenulisan, Pelatihan Menulis Puisi, Pelatihan Menulis Cerpen, dan Pelatihan Membuat Komik. Kita sengaja khusus mendatangkan penulis senior sekelas  Yulfian Azrial yang juga telah banyak menulis buku, dengan harapan karya-karya siswa dan guru di SMP Negeri 1 Payakumbuh akhirnya dapat juga kita terbitkan menjadi buku,” ujar  
Hj. Desfiwati, S. Pd, M.Si Kepala SMP Negeri 1 Payakumbuh.

Narasumber dan Pelatih Tunggal Yulfian Azrial, selain dikenal sebagai penulis Buku Budaya Alam Minangkabau yang pernah menjadi buku wajib untuk siswa SD dan SMP se Sumatera Barat, juga dikenal sebagai penulis yang juga jurnalis (wartawan) sejak awal tahun 1980-an. Bahkan sewaktu berkiprah di Jakarta memimpin sejumlah media bertaraf nasional,ia  juga diminta untuk menjadi Staf Pengajar LPWI (Lembaga Pendidikan Wartawan Indonesia) di Jakarta.

Menulis Adalah Gerbang Menuju Kesuksesan
“Saya sendiri mulai eksis menulis sejak masih aktif di Koran Dinding Sekolah. Juga sewaktu masih duduk di bangku SMP. Seusia kamu ini. Sejak itulah saya dan beberapa teman juga mulai mengikuti Lomba Menulis dan menjadi Juara  Tingkat Nasional. Bahkan illustrator Koran Dinding kami beberapa kali menjadi Juara Melukis di Negara India,” ungkap Yulfian Azrial.

“Menulis tidak hanya untuk menjadi penulis. Bahkan bisa menjadi gerbang atau jembatan meraih sukses di bidang kehidupan lainnya. Ada teman saya yang dari karir menulis akhirnya langsung menjadi Notaris Sukes di Jakarta. Ada yang karena rajin menulis akhirnya menjadi Dosen Hebat di ITB Bandung. Ada yang karena sering menulis kritik dan gagasannya  di media massa karirnya melonjak pesat. Ada yang dari menulis di media Menjadi Konsultan dan Pendiri Sebuah Lembaga Pendidikan Tingkat nasional. Banyak contoh-contoh lainnya,” ujar Yulfian berkisah tentang sejumlah tokoh sukses.

Akan Diterbitkan Dalam Bentuk Buku

Veyenti, Agustina, Bayu Desrianto, Guru Bahasa Indonesia yang bergantian mendampingi Yulfian Azrial memberikan materi menyatakan sangat terkesan dengan pelatihan kali ini.  “Siswa yang semula biasanya tampil gugup, ragu-ragu tiba-tiba berubah jadi penuh percaya diri. Mereka yang semula malu melihatkan karyanya, bahkan jadi bersemangat. Bahkan para peserta jadi berebut untuk membacakan karyanya, “ kesan Bayu Desrianto.

Hal lain yang berulang ditegaskan Yulfian Azrial, bahwa menulis sejatinya bukanlah ilmu, tetapi sebuah keterampilan. Setiap yang namanya keterampilan, maka kuncinya hanya latihan, latihan dan latihan. Lanca kaji dek baulang, pasa jalan dek batampuah,” ujar Yulfian menyetir sebuah pribahasa Minangkabau.

 “Ya, ke depan latihan-latihan menulis bagi siswa inilah yang akan kita akomodasi. Seperti yang disarankan Yulfian Azrial, selain menyemarakkan Pojok Baca Kelas, ke depan kami akan membenahi Majalah Dinding Siswa. Setiap kelas harus punya mading  yang terbit rutin sekali seminggu,” Ujar Dra. Veyenti  dan Agustina,SPd  guru senior Bahasa Indonesia.
“Benar. Karya-karya terbaik di setiap kelas ini baru kita muat di dalam Majalah Sekolah atau semacam Tabloid Sekolah. Nanti sekali satu semester atau minimal sekali setahun, karya-karya terbaik dari siswa ini akan kita terbitka dalam bentuk buku. Begitu juga karya-karya guru. Saya ingin selama saya memimpin sekolah ini satu guru minimal ada satu buku yang dihasilkannya.” Ujar
Hj. Desfiwati, S. Pd, M.Si, Sang  Kepala Sekolah yang semakin bersemangat  mengemas kegiatan literasi ini