[images cols=”five” lightbox=”true”]

[image link=”http://beritasumbar.com/wp-content/uploads/2015/04/kelok-sembilan.jpg” image=”4446″]
[image link=”http://beritasumbar.com/wp-content/uploads/2015/04/kelok-sembilan-tds.jpg” image=”4445″]
[image link=”http://beritasumbar.com/wp-content/uploads/2015/04/kelok-sembilan-tds-4.jpg” image=”4444″]
[image link=”http://beritasumbar.com/wp-content/uploads/2015/04/kelok-sembilan-tds-3.jpg” image=”4443″]
[image link=”http://beritasumbar.com/wp-content/uploads/2015/04/kelok-sembilan-tds-2.jpg” image=”4442″]
[/images]

 

Limapuluhkota – Di Sumatera Barat, ada jalan layang yang arsitekturnya sangat keren. Jalan manalagi kalau bukan Jalan Kelok 9 yang menghubungkan jalur Padang-Pekanbaru. Banyak turis mememanfaatkan lokasi ini untuk berfoto ria.

Tempat ini dulunya berupa jalan raya biasa yang berkelok melipir di antara bukit yang memanjang. Karena seringnya terjadi kecelakaan, pemerintah setempat akhirnya membuat sebuah jalan layang yang sangat indah, dan berada di tengah hutan tropis yang masih terjaga dengan baik.

Berada di jalur trans Padang – Pekanbaru, menjadikannya sebagai tempat favorit bagi para pengguna jalan untuk beristirahat sejenak sambil menyaksikan keindahan arsitekturnya.

Perjalanan solo travelling di Sumatra Barat kali ini membawaku ingin melihat tempat ini secara langsung. Apalagi para sahabat traveller sering menulis keindahannya lewat blog-blog pribadi mereka. Ah, semakin penasaran saja dibuatnya.

Menumpang mini bus dari Payakumbuh dengan lama perjalanan hampir 2 jam, tak membuat saya larut dalam perjalanan panjang yang melelahkan ini. Apalagi panorama alam di sini sangat indah sebagai obat pelepas lelah selama perjalanan.

Jalanan di sini sangat mulus, mungkin karena merupakan jalan penghubung antar provinsi. Dengan lintasan awal melewati perkampungan penduduk, kita dimanjakan oleh keindahan tebing dan sawah sebagai penghias di kiri-kanan sepanjang perjalanan.

Lepas dari perkampungan, pemandangan sudah mulai berubah. Hutan tropis menggantikan panorama alam sebelumnya. Dengan kontur jalan yang berkelok dan terus menanjak, sebagai pertanda bahwa sesaat lagi kita akan mendekati kelok sembilan yang ditandai dengan melewati sebuah jembatan kecil.

Beberapa saat setelah lepas dari jembatan, di depan kita nampak sebuah jalan bak melayang di tengah rimba belantara yang diapit dua sisi bukit yang berbaris. Mengitari jalan ini cukup lama memakan waktu, karena selain berkelok, juga memilki 4 tingkatan.

Saya pun segera turun pada salah satu bangunan permanen yang berfungsi sebagai pos polisi. Saya pun segera beranjak dari tempat itu, sembari mengabadikannya dengan kamera kesayangan.

Ternyata di tempat itu sudah berkumpul banyak orang yang sedang berfoto ria. Ada beberapa rombongan wisatawan lokal dengan membawa mobil pribadinya, seperti terlihat banyaknya mobil yang parkir di pinggir jalan.

Sepanjang Menara Pandang, berjejer pedagang asongan yang menjual minuman dan makanan kecil. Sambil melepas lelah, 2 dua jagung bakar pun seketika ludes saya makan. Sudah lapar soalnya.

Senja pun kian menyapa, disertai rintik hujan yang membasahi jalanan ini. Sembari menunggu angkutan umum, saya segera menepi di salah satu warung. Tak lama kemudian, mini bus datang dan membawaku menuju ke Kota Batu Sangkar.

Lelah selama perjalanan panjang membuat saya tertidur cukup lama. Akhirnya saya dikejutkan dengan suara panggilan penumpang di sebelah saya.

“Mas, bangun mas. Kita sudah sampai di Kota Batu Sangkar”. dengan logat Minang nya yang khas. Akhirnya saya harus menyudahi petualangan saya menyusuri jalan Kelok 9.