Jakarta,BeritaSumbar.com,- Kehadiran seorang bapak negara RI ditolak masuk Universitas Indonesia (UI) dinilai tidak masuk akal.”Negeri ini bukan intoleransi tapi penolakan terjadi di dunia kampus,” kata Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie.

Sungguh memalukan Insiden kartu kuning berlanjut. Lanjut kata Jerry, aksi kecaman muncul justru dari sejumlah mahasiswa UI sendiri. Terutama kepada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, Zaadit Taqwa.

Sebetulnya tuturnya, ini tak perlu terjadi karena sudah mencoreng nama UI.

Menurut dia, kedatangan presiden hanya untuk membawakan pidato pada dies natalis UI, jangan kaitkan dengan unsur politis.Cara berpikir seperti ini sungguh picik dan memalukan. Jangan sangkut pautkan dengan masalah politis.

Bagaimana kalau ini ditiru kampus-kampus yang ada di Indonesia tegas Jerry.Menurut Jerry para penolak Jokowi identik drngan haters dan mereka gagal paham. Jangab kaitkan dunia pendidikan dan politik.

“Sebagai seorang akademisi UI malu melakukan tindakan seperti ini. UI kan kampus negeri bukan swasta. Saya curiga ada yang menunggangi dengan menghasut agar presiden tak bisa berpidato di UI,” tuturnya.

Lanjut kata Jerry agak sulit menjadi pemimpin di Indonesia. Kendati pak Presiden sudah melakukan yang terbaik masih saja dianggap tidak benar dan pencitraan.

“Bisa-bisanya isu politik pencitraan diangkat, tujuannya hanya menjegal Jokowi pada pilpres 2018 mendatang. Tak ada lain,” ujarnya.

Semua cara dilakukan kelompok pembenci Jokowi. Bukan itu saja Jokowi hadir di mesjid Afghanistan dibilang pencitraan, aneh bin ajaib.”Kalau manusia Indonesia seperti ini saya yakin negeri kita tidak pernah akan menjadi negara maju,” kata dia.

Secara substansi, eksistensi dan esensi argumen pencitraan sungguh lemah dan tak masuk akal.”Antara Irasional dan Rasional. Coba data berapa aktivis yang menolak, mereka itu siapa dan darimana? main reason-nya apa”? tandasnya. Latar belakang kelompok yang menolak dari mana ujar Jerry.Selain itu kata dia, perlu ditelusuri juga karena dalih, asumsi mereka tak cukup kuat menolak presiden.(Dr.Jerry Messie MA.Ph.D dari Indonesian Pondation Institute )