Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si.

Padang,BeritaSumbar.com,-Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Singapura menjadi investor terbesar bagi Indonesia sepanjang 2018. Investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) Singapura ke Indonesia tahun 2018 tersebut mencapai US$ 9,19 miliar atau setara Rp 128 triliun. Berturut-turut  10 besar investasi asing langsung  di Indonesia setelah Singapura (US$ 9,19 miliar) adalah Jepang, Tiongkok/China, Hong Kong, Malaysia, Korea Selatan, Amerika Serikat, British Virgin Island, Belanda, dan Australia.

Harga Smartphone Samsung J Series dengan Berbagai Pilihan Spesifikasi

FDI yang masuk ke Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$ 29,3 miliar atau setara Rp 392 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 490 ribu pekerja. Sebanyak US$ 4,38 miliar atau sekitar 15% mengalir ke sektor listrik, gas dan air di 515 proyek, terbesar dibandingkan dengan sektor lainnya. Sektor terbesar kedua adalah bidang usaha perumahan, kawasan industri, dan perkantoran dengan nilai US$ 4,3 miliar di 941 proyek. Ketiga bidang usaha pertambangan dengan nilai US$ 3,04 miliar di 606 proyek. Kempat sampai sepuluh adalah transportasi, gudang, dan telekomunikasi; logam dasar, barang logam, dan bukan mesin; industri kimia dan farmasi; tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan; mesin, elektronik, dan instrument kedokteran; industri makanan; dan kendaraan bermotor dan alat transportasi lainnya.

Industri di Sumbar: Energi Terbarukan dan Pariwisata

Di Sumatera Barat (Sumbar), sepanjang 2018, total investasi yang masuk sebesar Rp 4,7 triliun atau mencapai 112 persen dari target Rp 4,1 triliun. Investasi itu terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMND) sebesar Rp 2,3 triliun atau lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar Rp3,4 triliun. Namun, untuk investasi asing mencapai realisasi 341 persen dari target, yakni US$180 juta dari target yang hanya US$52 juta. Penanaman Modal Asing (PMA) di Sumbar pada 2018 meningkat tajam hingga lebih dari 300 persen di atas target tersebut, diyakini karena upaya jemput bola yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar. Hal itu diharap menjadi langkah awal untuk íbisa menarik lebih banyak investasi dari luar pada 2019.

Energi terbarukan dan pariwisata masih menjadi sektor andalan Sumbar untuk menggaet investasi masuk pada 2019 guna merealisasikan target sebesar Rp4,3 triliun. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumbar Maswar Dedi menyebutkan target investasi tersebut, baik dari PMDN maupun PMA. Potensi dua sektor itu (energi terbarukan dan pariwisata) sangat melimpah di Sumbar sehingga pantas untuk jadi primadona selain sektor perikanan, perkebunan, dan pertambangan.

Investasi di sektor energi terbarukan yang berpeluang adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMA) di Kabupaten Pesisir Selatan, Pasaman, dan Solok Selatan. Kemudian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Kabupaten Solok, Pasaman, dan Agam. Investasi sektor pariwisata seperti akomodasi (hotel), penyediaan makan minum, dan transportasi akan lebih mengarah pada Kabupaten Pesisir Selatan dan Mentawai. Sementara sektor pertambangan berupa minyak bumi dan gas bisa dikembangkan di Kabupaten Sijunjung.

Warga Sumbar: Bekerja atau Berinvestasi?

Dengan informasi mengenai FDI di Indonesia secara umum dan khususnya PMA dan PMDN di Sumbar tersebut, apa  yang bisa diharapkan bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi warga negara atau masyarakat di Sumbar? Biasanya akan tergambar pertama kali pada keinginan setiap warga dan anggota keluarganya di dalam masyarakat adalah mendapatkan pekerjaan dari berbagai investasi tersebut. Namun, bukankah semestinya justru pada investasi itu sendiri yang pertama kali harus direspon?

Tantangan bagi mereka yang menginginkan untuk menjadi pekerja atau menjual tenaga kerja dalam berbagai industri adalah kesanggupan untuk memiliki kemampuan keterampilan kerja yang baik. Dengan kalimat lain, harus memiliki daya saing di pasar tenaga kerja atau berani berkompetisi dengan pekerja lain yang berasal dari luar provinsi Sumbar, atau bahkan dengan pekerja asing dari luar negeri. Menjadi pekerja di dunia industri setidaknya juga mengurangi persaingan dalam keinginan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparat Sipil Negara (ASN) di Sumbar.

Meskipun sejumlah formasi yang tersedia dalam seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 di provinsi dan daerah kabupaten/kota di Sumbar juga tidak terisi. Dari 864 formasi yang dibutuhkan di lingkungan Pemprov Sumbar pada seleksi penerimaan CPNS tahun lalu, sebanyak 37 kursi di antaranya belum terisi. Formasi yang kosong itu sebagian besar didominasi oleh formasi untuk dokter spesialis. Kekosongan itu sebagian terjadi karena beberapa peserta tes CPNS 2018 nilainya tidak mencapai target, sedangkan sebagian lagi karena sejak awal memang tidak ada yang ikut ujian.

Lalu, bagaimana dengan menjadi investor? Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumbar mencatat, sepanjang tahun 2018 kemarin nilai transaksi saham warga Sumbar, dilihat dari nilai transaksi investor ber-Kartu Tanda Penduduk (KTP) Sumbar, mencapai Rp 6,2 triliun. Transaksi tertinggi terjadi pada Januari 2018 mencapai Rp 1,2 triliun dengan jumlah lot 22.834.538. Masyarakat Sumbar bisa berinvestasi di pasar modal untuk mengambil manfaat dari peluang yang ditawarkan oleh industri pasar modal.

Caranya dengan menanamkan dananya dan mengambil keuntungan di pasar modal lewat instrumen saham, obligasi ritel atau ORI, sukuk, reksadana serta instrumen efek lainnya. Orang-orang yang unggul secara finansial di dunia merupakan para pemilik saham atas perusahaan yang tercatat di bursa efek. Kepemilikan atas saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menciptakan keuntungan secara finansial bagi pemegang saham bersangkutan. Pasar modal dapat menjadi salah satu alternatif jitu dalam pengembangan pembangunan ekonomi di Indonesia karena keberadaannya yang semakin berkembang dan kebutuhan perusahaan terhadap modal dapat terealisasi lewat pasar modal.

Dari informasi dan uraian di atas, maka warga Sumbar dihadapkan pada pilihan untuk menjadi pekerja atau investor dalam rangka meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Ini menjadi pilihan yang berbeda bagi generasi hari ini yang biasanya disebut Generasi Milennials dan Generasi Z, jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Tidak hanya bisa menjadi pekerja saja khususnya sebagai PNS/ASN, namun juga investor bahkan pengusaha di sektor-sektor yang ada. Begitulah pilihan di era industri 4.0 bahkan 5.0. Semoga bangsa kita berjaya!

 

Penulis: Virtuous Setyaka

Dosen Program Studi Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Andalas.

 

loading...