sumber gambar dari Wikipedia

BeritaSumbar.com,-Zohri atau lengkapnya “Lalu Muhammad Zohri” seorang anak remaja Indonesia kelahiran tahun 2000 dari Lombok, Nusa Tenggara Barat telah berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia sebagai pemenang dan medali emas pada kejuaraan atletik dunia junior tahun 2018 yang berlangsung di Tampere, Finlandia tanggal 11 Juli 2018 ini. Hadiah kemenangan itu juga sekaligus sebagai anugerah bertepatan dengan bulan kelahirannya. Keberhasilan Zohri memberikan banyak pelajaran berharga.

Zohri tampil sebagai finalis dalam kejuaraan atletik tersebut tidaklah atlit yang diunggulkan oleh pengamat dan media internasional sebelumnya. Hal ini karena memang Indonesia belum pernah mencatat sejarah kemenangan pada olah raga ini sebelumnya. Ia pun menempati line delapan atau dipinggir, sebuah jalur dalam ajang atletik yang tidak pernah diunggulkan. Ia menorehkan prestasi  pada lari 100 meter dengan catatan waktu 10,18 detik, dan berhasil mengalahkan dua pelari Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison yang memang diunggulkan sebelumnya.

Pada awal keberangkatannya dalam ajang internasional untuk membawa nama bangsa ini juga luput dari harapan yang dielu-elukan, atau bahkan nyaris tak dipandang.  Sebelum adanya berita kemanangnnya ini, di tanah air hampir dipastikan tidak ada masyarakat yang mengenal dengan ‘track record’ prestasi yang telah ditorehkannya sebelumnya. Sebelum mengikuti ajang kompetesi bergengsi ini pun, ia tidak mendapat perhatian yang layak dengan apa yang akan dilakukannya di dunia Internasional, baik dari pimpinan daerah dan pejabat nasional yang berkepentingan.

Namun setelah kemenangannya sontak beritanya menjadi ‘viral’ media sosial di dunia maya, pemberitaan besar di media masa nasional dan internasional. Tak lupa pula, para pemuda dari Gaza Palestina ikut membuat video-video pendek ucapan selamat untuknya. The Guardian, Berita Harian Inggris membuat laporan khusus tentang keberhasilan Zohri dan lika-liku perjuangannya pada terbitan 13 Juli 2018 yang lalu.

Lalu setelah kemenangan diperolehnya, berita media mendunia, barulah ucapan selamat datangpun datang dari berbagai kalangan, dan pemberian dan janji-janji hadiah pun datang, mulai dari bantuan tunai perbaikan rumah, bantuan usaha, janji karir di militer dan bertemu dengan presiden.

Kisah Zohri mendapatkan perhatian besar publik secara nasional dan internasional karena memang menyentuh sangat dalam arti sebuah nasionalisme kebangsaan dan optimiesme genarasi muda. Zohri seoarang anak muda yang berasal dari keluarga yang serba kekurangan.

Ia hidup dengan kakaknya disebuah gubuk yang jauh dari kata-kata cukup. Bahkan, kisah sebelum keberangkatannya mengikuti lomba internasional di Finlandia tersebut juga terdapat kisah sedih yang heroik; jangankan bekal uang yang banyak untuk berangkat, untuk beli sepatu pun ia idak punya. Namun, apa yang dilakukan Zohri tidaklah menuntut ataupun marah kepada yang berwenang, namun dengan semangat ia tetap pergi untuk mengharumkan nama bangsa dan semangat untuk membuktikan ia bisa berprestasi.

Sungguh kalau Zohri mau sedikit ‘merengek’, sebelum ia berangkan ke Finlandia, sebenarnya ia punya hak untuk diperhatikan. Ia adalah pemegang rekor nasional untuk cabang olah raga ini, dan sebelumnya ia juga sudah membawa nama bangsa di ajang internasional, sebagai Juara Atletik Asia. Namun tanpa perhatian dan fasilitasi yang didapat, ia tetap maju membuktikan prestasinya.

Semangat nasionalisme yang dicontohkan Zohri adalah nyata, tanpa basa-basi dan pura-pura, tanpa kata-kata tapi menohok kita. Ketika anak muda yang seumuran dengannya atau bahkan yang lebih tua sekalipun sibuk dengan segala macam gadget dan kemewahan, namun tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Ketika orang-orang saling bertengkar menunjukkan ia yang paling nasionalisme, namun apa yang ia perbuat tak satupun terlihat bisa membawa kebaikan untuk negeri ini.

Lalu ketika ada masalah pada dirinya atau ia tidak mampu mencapai sesuatu, yang salah adalah sistem di negara ini atau warisan pemerintahan sejak dulu kala yang tak berkesudahan. Zohri menunjukkan pada kita, arti nasionalisme yang sebenarnya bahwa meskipun ia tidak difasilitasi sebagaimana seharusnya yang ia dapat, ia tetap tunjukkan bahwa ia bisa berikan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini.

Zohri, dia menjadi simbol nasionalisme yang ‘menampar’ generasi muda yang manja dengan gadget dan kemewahan dalam kemalasan, serta para tokoh yang pura-pura dan cari muka untuk dapat nama. Lalu dimana kita?

(*dr. Hardisman, MHID, PhD, Dosen FK Universitas Andalas, Pemerhati  Masalah  Kesehatan  dan Sosial  Kemasyarakatan )