Padang,BeritaSumbar.com,-Para cendikian Islam dalam bidang ilmu sains untuk kemaslahatan ummat telah menorehkan sejarah kegemilangan. Mereka juga tercatat sebagai peletak dasar teoritis dan praktis ilmu pengetahuan moderen saat ini, seperti dalam bidang kedokteran, matematika, dan fisika dan kimia, diantaranya adalah adalah Al-Khawarizmi (780-850M), Ar-Razi (854-930M) , Ibnu Sina (980-1037), Ibn Zuhr (1094–1162M), dan Ibnu Rusyd (1126M-1198M).

‘Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī’ atau yang lebih dikenal dengan ‘Al-Khawarizmi’, lahir Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan, 780M) dan wafat di Baghdad, Iraq (850M). Ia adalah seorang ahli dalam bidang Matematika, Astronomi, Astrologi, dan Geografi. Ia menjadi pengajar di universitas tertua di Baghdad. Al-Khawarizmi menghasilkan karya-karya yang monumental yang dijadikan dasar pengembangan matematika dan logika saat ini. Diantaranya karyanya adalah  Kitab Al-Jabar, yang merupakan buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar.

Al-Khawarizmi jugalah yang berperan penting dalam memperkenalkan angka Arab melalui karyanya Kitāb al-Jam’a wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind yang sekarang diadopsi sebagai angka standar yang dipakai di berbagai bahasa. Prinsip Al-Khawarizmi ini jugalah yang digunakan sebagai sistem penomoran posisi decimal. Dengan perhitungan angka-angka yang diperkenalkan Al-Khawarizmi, matematik menjadi lebih mudah, orang lebih mudah menghitung penjumlahan dan pengurangan serta perkalian dan pembagian sebagaimana yang kita lakukan saat ini. Istilah Logaritma atau perhitungan dalam matematika jug diambil dari namanya yang di-latinisasi (Al-Khawarizmi menjadi Algoritma dan Logaritma).

‘Abū Bakr Muhammad ibn Zakariyyā al-Rāzī Abūbakr Mohammad-e Zakariyyā-ye Rāzī’ atau singkatnya dikenal dengan Ar-Razi atau di Eropa dan Barat dengan sebutan latinnya ‘Rhazes’. Ia dilahirkan sekitar tahun 854M dan wafat tahun 930M. Ar-Razi dikenal sebagai bapak kedokteran muslim karena berbagai penemuannya dan pionir dalam mengembangkan kedokteran berbasis penyeidikan (penelitian) ilmiah. Ia mengembangkan ilmu kedokteran berdasarkan stimulasi prinsip-prinsip Islam dan kedokteran Yunani. Ia berhasil meletakkan dasar-dasar penyakit infeksi dan imunologi.

Kesungguhannya dalam mengembangkan ilmu kedokteran dibuktikan dengan karya-karyanya yang dihasilkannya dan digunakan sebagai panduan pengajarannya pada murid-muridnya dan dalam ia menjalankan profesi pengobatan. Tercatat lebih 250 buku. Manuskrip yang ditulisnya, baik tentang kedokteran dan filsafat ilmu. Diantara karyanya yang fenomenal di bidang kedokteran adalah Al-Hawi (The Virtuous Life), Man la Yahduruhu Al-Tabib, dan Shukuk ‘ala alinusor.  Al-Hawi merupakan ensiklopedia  kedokteran pertama yang ada di dunia kedokteran dan filsafat ilmu. Al-Hawi dutulis beberapa jilid, yang mencakup semua penyakit yang ada dan ia temukan saat itu. Man la Yahduruhu Al-Tabib (Bagi orang yang tidak ada Dokter), sesuai dengan judul bukunya, buku ini ditulis oleh Ar-Razi sebagai panduan dan nasehat bagi masyarakat dalam pencegahan penyakit dan pengobatan sederhana. Sedangkan Shukuk ‘ala alinusor (Keraguan tentang Galen) memuat tentang telaah kritis tentang karya-karya Galen dokter dan ilmuwan Yunani kono tentang ilmu kedokteran dan filsafat ilmu, serta perbaikan yang dilakukannya sesuai dengan temuannya.

‘Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā’ yang dikenal dengan nama Ibnu Sina atau  ‘Avicenna’ di dunia kedokteran barat. Ia lahir tahun 980 di Afsyahnah daerah Bukhara (sekarang bagian dari Uzbekistan), dan meninggal tahun 1037 di Hamadan, Persia (sekarang Iran). Ibnu Sina telah berhsil melatakkan dasar-dasar pengobatan imiah yang cukup lengkap dibandingkan pendahulunya Ar-Razi, serta memperbaiki penerapan kedokteran Yunani kuno. Hasil pemikirannya telah diabadikan dalam lebih dari 450 buku atau manuskrip. Diantara karyanya yang paling dikenal adalah Al-kanuun fit thib (The canon of Medicine).

Ibn Zuhr (1094–1162M) adalah seorang ilmuwan kedokteran muslim di abad pertengahan, dilahirkan di Seville, Andalusia (sekarang Spanyol). Ibn Zuhr tidak hanya sebagai pelanjut tradisi keilmuwan Islam tetapi juga berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan langsung di tanah Eropa. Semangatnya dalam menggali ilmu dan mengembangkannya juga terlihat dari karya-karya yang dihasilkannya, diantaranya Kitab Al-taysir (Buku tentang terapuetik dan diet, yang mencakup berbagai metode pengobatan seperti dengan ramuan ataupun tindakan bedah) sebagai karya utamanya dan Kitab al-Aghdhiya (tentang makanan, zat gizi dan pengaturan pola makan dan nasehat-nasehat untuk pencegahan kesehatan). Selanjutnya Kitab Al-Taysir menjadi dasar bagi pengembangan kedokteran bedah di Eropa.

‘Abu Walid Muhammad bin Rusyd’ atau yang dikenal dengan ‘Ibnu Rusyd’, dan di dunia Barat disebut dengan Averroes dilahirkan di Kordoba (520H/ +1126M), Andalusia (spanyol sekarang) dan Wafat di Marrakesh, Maroko (1198M). Ia meninggalkan karya dalam bidang fiqh Bidayat Al-Mujtahid dan Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at, dan dalam bidang ilmu kedokteran Kulliyaat fi At-Tib. Buku inilah yang juga nantinya banyak mempengaruhi perkembangan pengetahuan kedokteran barat, terutama di Eropa.

Mengetahui kiprah dan peranan besar mereka bukanlah hanya untuk nostalgia dengan membanggakan masa lalu, namun menjadi pelajaran dan keteladanan. Melihat kiprah dan ‘legacy’ para cendikia muslim terdahulu seyogyanya menjadi keteladanan dan pelajaran berharga bagi ulama dan pendidik zaman saat ini terutama para dosen di perguruan tinggi, dengan menggali ilmu dan kepakaran setinggi mungkin, berakhlak mulia dalam lingkungan sosial sehingga menebarkan manfaat, kemudian berkarya untuk kemaslahatan yang akan ditinggalkan bagi generasi selanjutnya.(*)

Oleh: dr. Hardisman, MHID, PhD*
*Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK-Unand), Padang, Ketua Program Pascasarjana Kesmas & ADM RS