Daun singkong, di Sumbar dikenal juga dengan daun Pucuak Parancih (daun Ubi Kayu). - foto inginhidupsehat.com

Ditulis oleh: Ruli Harmadi (Salah Seorang Pendiri Tan Malaka Institute)

Hikayat Pucuk Parancih (Pucuk Ubi Kayu) ini untuk mengenang 179 tahun kejatuhan Bonjol (16 Agustus 1837-16 Agustus 2016).

Sebelum bernama Bonjol, nagari di Kabupaten Pasaman itu terkenal sebagai Alahanpanjang, sebuah lembah berhawa panas di khatulistiwa. Kemudian tempat itu dikenal sebagai nagari nan tigo lareh, rajo nan ampek selo karena pernah diperintah oleh tiga tuanku lareh masing-masing berkedudukan di Bonjol. Kumpulan dan Alahanmati. Di samping itu, menurut adat nagari, juga tunduk pada empat raja adat, yaitu Datuk Sati di Kampungbaru, Datuk Bandaro di Kampungdalam, Datuk Bagindo Kali di Kampungangus, dan Datuk Bagindo di Batubanding.

Ke daerah Bonjol inilah kita sekarang memusatkan perhatian. Jatuhnya kubu Bonjol hanya menunggu waktu saja, karena Belanda berhasil dengan taktik Plakat Panjangnya dan banyak terjadi pengkhianatan di dalam gerakan Pidari sendiri. Jatuhnya Bonjol, bukanlah suatu kemenangan militer gemilang seperti yang ingin ditonjolkan Belanda. Namun begitu, kita juga maklum bahwa menyerahnya kubu itu tak lain hanya awal dari saat-saat terakhir suatu perjuangan lama menentang penjajahan. Atau untuk memakai kata-kata Steyn Parve, seorang penulis Belanda, “Tumbanglah sebuah pohon besar sebelum sempat berkembang dilanda topan dari seberang lautan.” Tahun-tahun yang masih tersisa sebelum Bonjol jatuh, bolehlah dikatakan merupakan nyala api besar terakhir dari suatu gerakan dengan tujuan baik tetapi juga dengan cara-cara yang sering keliru.

Walaupun Belanda berhasil dengan siasat Plakat Panjangnya, masih lebih dari lima tahun lagi berjalan sebelum seluruh perlawanan Pidari dapat dipatahkan. Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda beberapa kali mendatangkan bantuan yang besar dari Jawa hingga pada suatu saat terhimpunlah di sana tentara paling banyak yang pernah dikerahkan Belanda di negeri kita hingga waktu itu. Baru pada pertengahan tahun 1837 dan di bawah pimpinan Komandan Angkatan Darat Hindia praktis telah kosong ditinggalkan para prajuritnya. Sisa-sisa perlawanan di Mandailing, baru dapat ditundukkan seluruhnya lebih dari satu tahun kemudian.

Semenjak Van Sevenhoven ditarik ke Batavia, yang menggantikannya sebagai pemimpin bidang sipil ialah Francis. Sedangkan bidang militernya dipegang oleh seorang tukang pukul ala Raaf dahulu, bernama Bauer. Pembagian kekuasaan ini merupakan politik bermuka dua Van den Bosch yang licik sekali, oleh karena itu memerlukan sedikit keterangan. Sebelum berangkat dari Sumatra Barat, telah dikatakan di atas, bahwa Van den Bosch meninggalkan sepucuk surat kepada Bauer. Surat tersebut dititipkan pada Van Sevenhoven untuk diserahkan kelak jika orangnya tiba di Padang. Tetapi Van Sevenhoven dilarang keras membaca isis surat itu. Sebabnya? Oleh karena berisi semacam blangko mandat bagi Bauer untuk menggempur setiap yang muluk pada Francis agar berusaha menjunjung tinggi aspirasi rakyat, jangan memakai kekerasan, ingat isi Plakat Panjang dan sebagainya. Tidak lupa pula dia mengingatkan pada Bauer imbalan yang akan didapat, pangkat tinggi akan menyusul andai kata dia berhasil di bidang militer.

Dalam pada itu, untuk rakyat banyak dipancanglah tinggi-tinggi bendera Plakat Panjang. Residen beserta staf sipilnya sibuk turba, mendekati rakyat, mengambil hati, memberi penerangan di mana-mana, perundingan-perundingan jika perlu. Dan memang dia banyak berhasil. Terbukti tidak sedikit pemimpin bekas musuh yang datang menyerah secara damai, serangan-serangan jauh berkurang, lalu lintas dagang meningkat. Kehidupan ekonomi sedikit demi sedikit berangsur normal dan para penengah Francis sibuk kasak-kusuk menghubungi pemimpin-pemimpin Pidari yang masih ragu-ragu. Sebaliknya di kalangan kaum Pidari sendiri, kecuali mereka yang telah terang-terangan menghendaki kerja sama dengan Belanda, tidak sedikit yang menggendorkan siap siaga, dan banyak pula pertahanan yang tidak secara ketat dipertahankan lagi. Singkatnya, Van den Bosch berhasil dengan siasatnya.

Dalam keadaan yang agak mulai tenteram beginilah, bom waktu Komisaris Jenderal berupa sepucuk surat tadi, meletus secara tiba-tiba. Secara khianat di malam buta, Bauer dengan diam-diam menyerang Matua yang tidak dipertahankan. Ini terjadi pertengahan Juni 1834 tanpa izin Residen Francis walaupun padanya dengan tegas diberi hak oleh Van den Bosch memberi kata terakhir mengenai tiap serangan yang akan dijalankan Bauer. Waktu itu Francis tidak tahu, bahwa apa yang dijanjikan Van den Bosch padanya adalah bertentangan dengan apa yang diperintahkan Van den Bosch pada orang kepercayaannya, Bauer, si tukang pukul. Sungaipua jatuh pada tanggal 25 Juni dan Bauer ingin menerobos ke Lembah Alahanpanjang, tujuan Bonjol. Tetapi tanpa diduga, perlawanan Pidari cukup sengit walaupun telah kehilangan beberapa kubu pertahanan karena lengah tadi.

Seperti telah kita katakan, tanpa diduga perlawanan rakyat cukup sengit. Tiap jengkal tanah harus direbut dengan korban berjatuhan. Baru sesudah satu tahun, pasukan-pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol. Kubu pertahanan ini tidak bisa direbut Belanda. Sampai bulan September 1835 dengan korban lebih dari 500 orang, benteng itu tetap bertahan. Akhirnya Bauere mundur, lantas minta bantuan tambahan lagi dari Batavia. Beberapa bulan kemudian bantuan pun datang. Tidak tanggung-tanggung banyaknya, yakni 800 tentara terlatih dengan persenjataan cukup dan mutakhir. Dimulai lagi operasi menggempur Bonjol. Juga tidak berhasil! Anda bayangkan, sebuah tentara modern, terdiri atas lebih dari 2500 orang di bawah pimpinan kira-kira 50 perwira bangsa Eropa yang terlatih, ditambah dengan gerombalan Melayunya sebesar hampir 13.000 orang di bawah tuanku dari Batipuh, Halaban, Limapuluh Koto, Pariaman, Tuanku Nan Tinggi dari VIII-Koto dan lain-lain, tak sanggup mendekati apalagi merebut Bonjol.

Kita kemukakan persoalan ini, bukan karena kita latah mengikuti sejarah kolonial Belanda yang senantiasa menonjolkan segi-segi militer dalam usahanya melumpuhkan gerakan Pidari. Tujuan penjajah tidak lain untuk mengagung-agungkan tentara mereka. Sedangkan kita tahu perjuangan Pidari sebagai penentang penjajahan, dapat dipatahkan bukan karena hebatnya tentara Hindia Belanda, tetapi karena terlalu banyak kehilangan pengikut atau memihak penjajah. Selain itu, perjuangan kaum Pidari samasekali tidak dapat diukur dengan kekuatan senjata belaka. Gerakan itu juga meliputi bidang ideologi atau sebutlah semacam cita-cita pembaruan dalam agama. Kita mengajukan sedikit segi militer tadi, sekedar untuk mengingatkan banyak ahli kita yang ingin mengecilkan peranan kaum Pidari sebagai pejuang menentan penjajah.

Semua serangan besar-besaran Belanda yang selalu kandas itu membuat Batavia betul-betul pusing. Untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya dan memberi laporan maupun saran-saran yang jitu, diutuslah ke Sumatra Barat seorang letnan satu bernama Steinmetz. Dia sampai di sana, dan mengunjungi garis pertahanan Belanda terdepan, dalam bulan Januari 1836. Setelah secara teliti menyelidiki keadaan, mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin sipil maupun militer. Steinmetz mengirim laporan panjang lebar ke Batavia. Laporan letnan satu itu memang baik dan jitu sekali, oleh karena itu didengar dan diikuti Pemerintah Pusat.

Bagaimanakah gambaran Steinmetz tentang keadaan tentara Belanda dalam usaha merebut Bonjol? Jelek dalam arti sebenar-benarnya, demikianlah kesan yang didapatnya di sana. Dia samasekali tidak melihat kemungkinan Belanda berhasil merebut Bonjol. Untuk mundur, juga tidak mungkin karena akan membawa bencana lebih besar lagi. Jalan keluar? Agar dikirim bantuan tentara tidak kepalang tanggung, hingga nanti akan terkumpul di sana suatu kekuatan besar yang belum pernah dihadapi kaum Pidari sebelumnya. Pasukan itu harus di bawah pimpinan jauh lebih tinggi dari Bauer. Malah Steinmetz memerinci bantuan dalam bentuk apa dan berapa. Semua ini hanya untuk menundukkan kubu-kubu pertahanan di sebuah lembah yang luasnya relatif tidak berarti!

Berdasarkan laporan Steinmetz, diputuskan untuk mengirim bantuan besar ke Sumatra Barat di bawah Jenderal Mayor Cleerens yang sekaligus akan menggantinkan Bauer. Jenderal ini sampai di sana bulan April 1836 sedangkan seluruh pasukan baru tiba sebulan kemudian (satu batalyon infantri lengkap; tiga perwira dan 100 tukang meriam di bawah seorang kapten tangguh dan berpengalaman; satu detasemen infantri terdiri atas 2 perwira, 4 perwira muda dan 100 serdadu Jawa yang telah terlatih; lima perwira kesehatan, ahli zeni, ahli mesiu, meriam-meriam dan banyak lagi).

Awal Desember, Jenderal Mayor Cleerens menyerang, tetapi berhasil dipukul mundur met de groote wanorde (sangat kucar-kacir) untuk memakai kata-kata penulis militer Belanda bernama De Lange. Maka mulailah De Lange mencari-cari sebab kekalahan Belanda waktu itu: cuaca yang buruk, penyakit yang menyerang para prajurit, alam yang menguntungkan pihak Pidari, gerombolan Melayu yang penakut dan lain-lain.

Dalam pada itu biang keladi dari segala-galanya, Van den Bosch, telah lama pulang ke tanah airnya. Dia segera diangkat menjadi Menteri Jajahan dan dengan geram dan kesal dari jauh memperhatikan kejadian di Sumatra Barat. Dia betul-betul pusing dan malu! Malu pada rajanya yang begitu mata duitan. Dia menjanjikan begitu banyak jika rencananya berjalan lancar, yakni menjalankan Cultuurstelsel di Sumatra Barat seperti halnya di Pulau Jawa. Namun kenyataannya, hingga waktu itu Belanda justru harus mengeluarkan uang tidak sedikit untuk ongkos tentara begitu besar. Van den Bosch mulai putus asa. Dalam surat-suratnya kepada Raja (Desember 1836 dan Februari 1837), kebimbangannya jelas terbaca. Dia telah membayangkan bahwa seluruh Sumatra terpaksa harus dilepaskan andai kata serangan terakhir itu tidak juga berhasil. Anehnya, sekarang justru Raja yang menganjurkan agar Van den Bosch tetap kuat tekadnya. Raja berpendirian bahwa penundukan seluruh Sumatra kecuali Aceh, tetapi menjadi prinsip. Tanpa izin khusus Raja tidak dibolehkan menyimpang dari prinsip ini.

Setelah lama berpikir dan berunding, akhirnya diutuslah ke Sumatra pemimpin tertinggi tentara Hindia Belanda sendiri, Jenderal Cochius. Dalam suratnya pada Raja, Van den Bosch meletakkan kesalahan pada para pemimpin tentara yang kurang mengetahui lapangan (Bijdr. No. 39, 1890, 160-164). Mereka dituduh Van den Bosch menerapkan pengalaman perang di Jawa ke Sumatra Barat. Ini tidak mungkin, katanya. Residen Francis dituduh Van den Bosch menghabiskan uang dan waktu untuk berdiplomasi. Selain itu, Francis dituduh ingin menguasai soal-soal militer pula. Singkatnya, semua mereka dinyatakan kurang mampu, jadi harus diganti. Nama-nama calon pengganti mereka pun sudah ada pada menteri jajahan itu untuk diajukan pada Raja.

Dia sendiri yang melahirkan Plakat Panjang (“tidak mungkin mengadalahkan Pidari dengan kekuatan!”), dia pula yang mengangkat orang sipil mengepalai pemerintah (Van Sevenhoven dan Francis). Dia menganjurkan untuk berunding dengan para pemuka pihak musuh dan ini memang dijalankan dengan hasil cukup banyak. Tetapi dalam pada itu, dia pula yang menganjurkan Bauer untuk main gempur saja (“Anda akan mendapat kesempatan membuktikan kecakapan Anda di medan tempur!”). Kepada Francis dikatakannya bahwa pemimpin militer dalam putusan-putusan penting harus tunduk pada pemimpin sipil. Sebaliknya pada Bauer dijanjikan lampu biru untuk menggempur. Sekarang, setelah ternyata semua macet total, mereka sendiri yang dikambinghitamkan oleh Van den Bosch.

Tanggal 9 Maret 1837, sampailah Jenderal Cochius di Padang. Dia diangkat menjadi Komisaris Pemerintah dan segera mengambil alih pimpinan baik sipil maupun militer. Bersamanya juga sampai di Sumatra Barat 300 infantri (Belanda-Jawa, fifty-fifty) berikut artileri dan orang-orangnya, alat-alat zeni dan sebagainya. Seluruh kekuatan Belanda waktu itu telah mencapai 5000 tentara terlatih dan berpengalaman dengan lebih dari 15 pucuk meriam berkaliber besar. Jenderal Mayor Cleerens diganti oleh Kolonel Michiels yang tak asing lagi bagi rakyat Sumatra Barat. Tanggal 16 Agustus, pasukan Belanda berhasil memasuki Bonjol dengan tenang, tidak usah bertempur hebat karena Bonjol praktis sudah kosong.

Francis ibu-bapaknya bangsa Inggris tulen. Dia pun dilahirkan di jajahan Inggris. India, akhir abad ke-18. Tetapi kemudian menjadi warga negara Belanda, kawin dengan orang Belanda, meninggal di Negeri Belanda. Yang berbau Inggris pada dirinya hanya nama saja: Francis. Riwayat hidupnya cukup mengasyikkan. Sewaktu masih muda sekali jadi pelaut. Suatu musibah di kapal membawa nasibnya terdampar ke ujung paling barat Pulau Jawa. Semenjak itu dia memulai kariernya sebagai juru tulis pada kantor perwakilan dagang Inggris di Banten tahun 1815, kemudian pindah ke dinas Belanda. (Waktu itu hubungan Inggris-Belanda akrab sesudah perang Napoleon; pindah kerja soal mudah). Dia terus-menerus bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda. Memang, pengalamannya dengan rakyat pribumi hebat sekali. Di Minangkabau, namanya hingga hari ini masih sering disebut orang. Konon kabarnya dia pernah menganjurkan rakyat menanam dan memakan semacam pohon yang ubinya cukup enak dimakan. Di Jakarta terkenal sebagai pohon singkong, di Sumatra Barat sampai hari ini rakyat masih menamakannya “ubi francis” kemudian menjadi “ubi prancis”.

Semenjak juru tulis hingga kedudukan begitu tinggi, alangkah hebatnya pengalaman Emanuel Francis di bidang pemerintahan. Tiga kali bertugas di Banten, beberapa kali di Kalimantan, Palembang, Makasar, Bengkulu, Timor, Sumatra Barat (dua kali), Rembang, Madiun, Menado untuk akhirnya menjabat pangkat tertinggi sebagai Inspektur Keuangan pertengahan abad yang lalu. Sesudah pensiun, menjadi Presiden De Javasche Bank selama 12 tahun. Cukup hebat. Tidak menyesal dia menjadi orang Belanda!

Pada tahun 1825, Francis pernah menjabat pangkat asisten residen di Sumatra Barat di bawah Residen dan Komandan Militer De Stuers. De Stuers waktu itu menjalankan politik lunak terhadap geradakan Pidari. Dia berusaha mendalami aspirasi rakyat dan samasekali tidak ingin mendasarkan kehendaknya melalui kekuatan senjata. Berlainan sekali dengan tukang gebuk seperti Raaf sebelumnya dan Michiels sesudah itu. Tetapi kita juga tahu bahwa “politik lunak” ini harus dijalankan di sana karena hampir seluruh kekuatan tentara Belanda dibutuhkan di Jawa guna menumpas perjuangan Diponegoro. De Stuers berhasil. Kaum Pidari samasekali tidak mempergunakan kesempatan menghancurkan tentara Belanda yang pada waktu itu sedang lemah sekali. Kita yakin bahwa cara-cara bekerja De Stuers untuk berusaha mencari pengertian, bukanlah sekedar sandiwara belaka tetapi timbul dari keyakinannya dan pandangan jauh ke depan. Dalam batas-batas tertentu, Francis dapat mengikuti politik De Stuers. Walaupun keduanya pejabat kolonial (De Stuers jauh lebih maju alam pikirannya), tetapi cara-cara yang dipakai berbeda sekali dengan pejabat-pejabat militer sebelumnya ataupun sesudah mereka.

Karena telah berpengalaman di Sumatra Barat inilah maka Francis untuk kedua kalinya ditempatkan di sana pada tahun 1834. Sekarang sebagai residen, pemimpin pemerintahan sipil. Tugasnya untuk menjalankan “politik lunak” Van den Bosch untuk berdiplomasi seperti tertera dalam Plakat Panjang. Francis percaya pada cara baru ini dan betul-betul berusaha berdiplomasi dan “tidak mempergunakan kekuatan senjata”. Telah kita katakan bahwa dia banyak berhasil dan betapa kecewanya ketika diketahuinya bahwa Van den Bosch hanya main sandiwara belaka. Dia kemudian didepak begitu saja dengan cara tidak elegan. Persoalan ini menjadi cause celebre kira-kira pertengahan abad yang lalu. Telah begitu banyak karangan ditulis, buku yang terbit, polemik tidak berkesudahan di koran-koran Negeri Belanda. Menjadi isyu hangat diperdebatkan antara golongan tentara yang sok hebat, lawan sipil yang menganggap dirinya tak kalah berjasa. Tetapi di sini kita membatasi diri pada peranan Francis ini terhadap Tuanku Imam Bonjol.

Sebagai pegawai pemerintah kolonial, dia mungkin bangga atas apa yang dicapainya di sana hingga pertahanan Pidari terakhir jatuh dan Tuanku Imam ditangkap. Tetapi sebagai manusia, mungkin tidak akan terkikis dari hati sanubarinya cara-cara kotor yang dijalankannya terhadap Tuanku tersebut. Dia mungkin juga merasa bertanggungjawab atas hukuman yang tidak perlu begitu berat bagi seorang tua yang berjuang untuk cita-cita, seorang pahlawan yang banyak dikhianati, dijebak secara kotor oleh kekuasaan suatu negara jauh dari seberang lautan. Seorang tua yang diketahuinya betul (hitam atas putih dalam laporan rahasianya) hanya ingin diizinkan hidup damai dan bertakwa pada Tuhan. Francis tidak mengerti mengapa pemerintahnya begitu kejam. Dia masih mengusulkan agar Tuanku Imam dibuang ke Batavia saja tetapi kenyataannya orang tua itu diasingkan ke ujung paling utara Sulawesi. Dia sendiri mengakui bahwa cara-cara menangkap pahlawan kita itu adalah kotor. Dia mengaku bertanggung jawab mempergunakan tangannya yang kotor. Tetapi dia bersembunyi di belakang tabir “harus menjalankan tugas.”

Kita lewatkan saja cerita-cerita pertempuran, begitu pula kegiatan-kegiatan Francis di bidang sipil. Kita pusatkan perhatian pada soal-soal yang ada hubungannya dengan Tuanku, terutama pada soal-soal yang ada hubungannya dengan Tuanku, terutama tahun-tahun sekitar jatuhnya pertahanan Bonjol. Residen Francis memang berrhasil dengan “politik lunaknya”. Maklum, situasi tentara Belanda sedang tergencet. Seperti biasa, dalam keadaan demikian Belanda selalu ingin berunding dan mengulur waktu. Tuanku Imam pun tidak keberatan memulai pembicaraan perdamaian. Sudah dalam bulan November 1835, sebetulnya, telah dimulai dijajaki langkah-langkah ke arah ini. Sudah pernah pula dikirim beberapa wakil Tuanku untuk menanyakan syarat-syaratnya. Tetapi sayang, mereka membuka pembicaraan bukan dengan Francis tetapi dengan Bauer. Yang ingin diketahui Tuanku jika toh harus berdamai, apakah Bonjol harus dihancurkan. Kalau tidak, apakah dia boleh menetap di sana walaupun tidak lagi untuk memimpin perjuangan tetapi hanya untuk agama. Tanpa berunding dulu dengan Francis, Bauer menjawab bahwa kalau Bonjol menyerah, syarat-syaratnya ialah seperti lazim untuk penyerahan biasa. Ini berarti pengosongan dan penghancuran kota itu dan pengasingan Tuanku. Dengan demikian Bauer si Jerman, telah membuang kesempatan berdamai. Sekarang Francis si Inggris harus mengambil oper seluruh kegiatan di bidang diplomasi.

Pada tanggal 7 Januari 1836, Francis mengirim surat pada Tuanku Imam. Isinya cukup netral saja, mengatakan bahwa kebetulan ia berada di bovenlanden. Apakah Tuanku barangkali mempunyai hal-hal yang ingin dibicarakan? Dia, Residen Francis, akan sangat gembira menerima Tuanku dan berbincang-bincang. Silakan datang! Residen itu segera melamporkan pada Batavia tentang inisiatifnya itu. Tak lupa pula dia memperingatkan atasanya akan kedudukan Belanda yang sedang sulit. Oleh karena itu, dia meneruskan, kemungkinan Tuanku Imam menolak untuk berunding, tetap ada. Tetapi dugaannya meleset. Tanggal 8 Februari berikutnya dia menerima surat lagi dari pemimpin gerakan Pidari itu. (Bijdr. No. 39, 1890, hlm.146). Di dalamnya dapat dibaca beberapa syarat untuk perdamaian. Antara lain diminta agar Bonjol bebas dari segala bentuk kerja paksa dan tidak akan diduki Belanda. Diminta juga agar kampung-kampung lain bebas menjalankan apa yang diingini rakyatnya. Syarat-syarat tersebut tentu saja dianggap tidak dapat diterima oleh Francis. Tetapi dia tidak menolak, seperti halnya Bauer. Apalagi di kala kaum Pidari berada di atas angin. Francis berusaha mengulur waktu. Dengan sengaja dia tidak memberi jawaban segera. Oleh karena cukup lama menunggu, Bonjol mengirim surat lagi meminta jawaban. Francis masih main kucing-kucingan. Dia segera mengirim laporan ke Batavia yang antara lain ditulisnya bahwa “….dalam keadaan tentara begitu jelek seperti sekarang ini, lebih baik mengulur-ngulur waktu sambil menunggu bantuan dari Jawa yang sangat diperlukan,” demikian antara lan dalam suratnya tertanggal 18 April 1836. Dua hari sesudah surat tersebut dikirim, Bauer juga melapor tentang kesulitan-kesulitan yang dialami tentara Belanda. Singkatnya, dia tidak sanggup menggempur dan setuju sekali agar diadakan perundingan damai.

Dalam pada itu, Jenderal Mayor Cleerens berikut tentara tambahan sampai di Padang. Baik Bauer maupun Francis memberi laporan tertulis dan meminta pandangan bapak jenderal itu. Cleerens menjawab tanggal 28 April 1836 dari Fort de Kock bahwa dia setuju dengan pandangan komandan Militer dan Residen Francis. Menurut Cleerens, akan mendatangkan bencana saja kalau Bonjol diserbu. Selain itu, ia menganggap orang-orang Melayu yang menyokong Belanda tidak bisa diharapkan. Andai kata Belanda kalah, akibatnya akan fatal. Mungkin akan kehilangan seluruh daerah yang telah diduduki (Sambil lalu dapat kita sebut di sini bahwa jenderal mayor itu nanti dianggap tidak mampu dan dinganti oleh Michiels, justru karena suratnya ini yang bernada sangat pesimistis).

Sesudah Cleerens dan pasukannya sampai di Sumatra Barat, barulah Francis mengirim jawaban pada Tuanku di Bonjol. Diberitakannya, bahwa tentara Belanda tidak akan ditarik dari Bonjol sebelum Tuanku menyerah. Tetapi gencatan senjata sudah bisa dilakukan. Tidak lupa pula dia mengingatkan Tuanku Imam agar jangan terlalu banyak mengajukan syarat dan mencurigai pihak Belanda. Sebab, tambah Francis, tidak lama lagi akan sampai banyak kapal penuh pasukan untuk menggempur Bonjol.

Tanggal 3 Mei berikutnya, dua utusan Francis berunding langsung dengan Tuanku, sedikit di luar benteng Bonjol. Syarat-syarat Tuanku: 1. Penarikan mundur tentara Belanda sampai ke Kumpulan (Selatan Bonjol); 2. Hubungan Lubuksikaping dan Kumpulan agar diperbaiki Belanda, dan 3. Penduduk Bonjol bebas dari segala bentuk kerja paksa, hanya boleh membantu Belanda kalau diminta dan berdasarkan sukarela. Francis tidak setuju dengan syarat-syarat demikian tetapi tetap berusaha mengulur waktu menunggu bala bantuan lagi dari Jawa. Sebaliknya, Francis juga mengingatkan atasannya tentang kedudukan Tuanku Imam yang serba sulit pula. Terjepit antara yang ingin damai dan mereka yang ingin terus bertempur. Namun yang jelas ialah kehendak damai dari pemimpin itu. Cleerens pun mengakui hebatnya perbentengan Bonjol dan bahwa Tuanku Imam betul-betul ingin damai. Dalam laporannya tertanggal 26 Mei 1836 pada komandan tentara Hindia Belanda (Cochius), Cleerens mengakui dia “yakin sekali bahwa kubu pertahanan Bonjol di puncak bukit tidak akan dapat direbut dengan kekerasan dan setiap orang mengakui hal ini….Saya seluruhnya sependapat dengan residen dan menyerahkan padanya seluruh perundingan.

Tuanku Imam memang ingin berdamai menerima uluran tangan pihak Belanda, khususnya Francis. Dia juga tahu bahwa banyak di antara pengikutnya telah bekerja sama dengan musuh. Tetapi lain halnya dengan Belanda! Mereka hanya mengulur-ngulur waktu sambil menunggu pasukan-pasukan baru. Sebab bagi mereka keadaan tidak bisa ditawar-tawar. Bonjol harus ditundukkan! Kalau perlu, seluruh kekuatan Hindia Belanda dari segenap penjuru Nusantara ini, dikumpulkan ke sana untuk menggempur. Bantuan para pemimpin pribumi di sekitar Lembah Alahanpanjang telah cukup banyak mereka terima. Apalagi di daerah-daerah lebih ke utara. Plakat Panjang Van den Bosch sungguh sangat menguntungkan. Sebaliknya, kekuatan musuh juga telah diperhitungkan betul oleh Tuanku Imam Bonjol. Tentara Belanda tiap hari bertambah kuat, dibandingkan dengan kekuatan yang setia padanya yang senantiasa menipis. Dari sudut inilah harus kita nilai tindakan-tindakan yang akan diambil nanti oleh orang tua berumur 65 tahun itu setelah berjuang terus-menerus selama 15 tahun lebih.

Tanggal 28 Juli, Jenderal Cleerens menerima surat dari Tuanku nan Tinggi. Dalam surat itu dikatakan bahwa Tuanku nan Tinggi dihubungi oleh seorang pesuruh menyampaikan niat Tuanku Imam untuk berunding dengan Jenderal Cleerens mengenai perdamaian, atau dengan seseorang yang ditunjuk jenderal itu. Yang ditunjuk Cleerens ialah Letnan Satu Van der Hart. Letnan ini mengunjungi Nan Tinggi di Sungaipua pada tanggal 30 Juli 1836. Di sana dia memperkenalkan dengan utusan Tuanku Imam bernama Pakih Samad. Letnan Van der Hart mengusulkan agar berunding saja dengan Residen Francis di Fort de Kock. Sewaktu dia bertemu dengan Francis, disampaikannya pendirian Tuanku Imam bahwa peperangan telah berjalan cukup lama dengan memakan banyak korban dan kesengsaraan pada kedua belah pihak. Bahwa Tuanku Imam ingin hidup damai dan ingin pergi ke Mekah. Pihak Pidari sedia menghentikan permusuhan dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Belanda membuat jalan ke Lubuksikaping melalui Lembah Alahanpanjang. Pada jalan itu Belanda boleh membuat sebuah benteng tetapi tidak di daerah persawahan.
  2. Kota Bonjol tidak akan diganggu lagi tetapi wakil Belanda mendapat izin ditempatkan di sana.
  3. Semua kubu pertahanan Belanda di sekeliling Bonjol harus dikosongkan hingga rakyat dapat mengerjakan sawah tanpa perasaan takut. Sebaliknya semua kubu pertahanan yang baru didirikan Pidari untuk melawan Belanda juga dihancurkan.

Francis tidak menolak usul-usul tersebut tetapi juga tidak menerimanya. Akan dibicarakan dulu dengan atasannya di Batavia, begitulah jawaban diterima Tuanku Imam. Sekali lagi musuh Francis harus sabar menunggu sedangkan sementara itu Belanda tetap menghimpun pasukan dan memperkuat kedudukannya. Serangan silih berganti tetap berjalan, setiap hari makin banyak pengikut Pidari berhasil dirawan suara lunak Residen Francis. Tuanku Imam betul-betul telah kesal menunggu dan menunggu. Bulan Maret komandan tentara Hindia Belanda sendiri datang ke sana. Cleerens tiba-tiba diganti dengan Michiels. Tanggal 16 Agustus 1837 Bonjol jatuh! Tiga hari kemudian ditandatangani perjanjian damai antara dua wakil Tuanku dengan pihak Belanda. Pada saat itu dijanjikan oleh pihak yang menang bahwa Tuanku boleh tetap di Sumatra!

Pada akhir lampiran buku karangan De Stuers dapat dibaca bahwa beberapa hari setelah Bonjol direbut musuh, diadakan pertemuan antara dua wakil Tuanku sendiri bersama pengikut ke sebuah benteng di atas bukit untuk bertemu lagi. Tetapi sampai di benteng itu, ternyata residen tidak ada dan Tuanku Imam Bonjol beserta anak dan tiga pengikutnya ditangkap, dibawa ke Padang, dari sana ke Batavia. Hanya sekian tertulis dalam Memoire van Tuanku Imam dan kita sekarang menyambung cerita selanjutnya dengan memakai sebagai sumber “Tambo Anak Tuanku Imam”, ditulis dengan huruf Arab (IG No. 37, 1915).

Menurut tambo tadi, Tuanku mendapat surat agar menghadap pemerintah Belanda. Atas nasihat beberapa pengikut yang setia, lebih baik undangan tidak diterima. Yang datang menghadap ialah 4 penghulu, karena Tuanku sedang “sakit”. Sekembali mereka, maka diputuskan agar Tuanku masuk hutan saja. Antara lain beliau mengatakan bahwa “…selama saya dapat dikuburkan di Alahanpanjang, saya dan anak-anak saya akan meneruskan perjuangan…” Maka berangkatlah rombongan sebanyak 80 orang termasuk pengawal bersenjata, mula-mula ke Kampung Anai, kemudian melalui Lubukgadang ke Rimbo Sialang dekat Ladangrimbo. Tetapi di sana mereka tidak merasa aman dan meneruskan perjalanan ke Bukitgadang. Ditebanglah hutan dan didirikan rumah. Keadaan sulit sekali, makan tidak cukup (yang dimakan ubi talas) dan ada pula yang meninggalkan rombongan termasuk putra-putra Tuanku, kecuali Sutan Caniago. Dalam pada itu Ladangrimbo diserang, dibakar musuh, banyak penduduknya dibunuh atau ditawan. Berita ini membuat Tuanku lebih bertekad lagi untuk menentang Belanda. Tetapi Sutan Caniago menganjurkan menyerah saja agar tidak banyak korban yang jatuh.

Dalam keadaan beginilah diterima surat dari Residen Francis. Surat itu dibawa oleh Tuanku Sidi, salah seorang anak Tuanku Imam yang telah bekerja sama dengan Belanda. Akhirnya diputuskan, Sutan Caniago yang akan berangkat guna menemui Kapten Steinmetz di Fort de Kock melalui Palupuh. Dengan diantar oleh seorang jaksa, Sutan Caniago akhirnya diputuskan, Sutan Caniago yang akan berangkat guna menemui Kapten Steinmetz di Fort de Kock melalui Palupuh. Dengan diantar oleh seorang jaksa, Sutan Caniago menjelaskan akhirnya diterima Steinmetz tanggal 28 Oktober 1837. Juga hadir 4 kapten dan seorang mayor Belanda. Sutan Caniago menjelaskan sebab-sebab bapaknya tak datang karena dilarang para penghulu yang ingin meneruskan perjuangan. Selama di Fort de Kock mereka diperlakukan baik sekali, malah Sutan Caniago diangkat menjadi “anak kompeni”. Sewaktu kembali ia dibekali uang, makanan, kuda dan lain-lain”. Sesampai di tempat Tuanku, diadakan rapat dihadiri oleh semua orang, termasuk ke-8 orang Jawa yang memihak Pidari. Waktu itu diputuskan bahwa Tuanku Imam akan menyerahkan diri. Sutan Caniago diangkat sebagai penggantinya.

Maka berangkatlah Tuanku secara berhati-hati dengan beberapa pengikut. Sesampainya di Palupuh, residen tidak ada seperti yang dijanjikan. Kapten Steinmetz pun tidak ada. Sebaliknya banyak sekali penghulu yang menantikan kedatangan Tuanku. Setelah diberitahu, Steinmetz juga datang dari Fort de Kock. Kepada semua yang hadir, Tuanku menyatakan akan menyerahkan nasibnya pada Tuhan. “Saya akan menanggung sendiri nasib saya, kayu keras harus menjadi lunak,” demikian antara lain dikatakan beliau. Kepada Kapten Steinmetz diminta agar melindungi keluarganya di dalam hutan dan agar ia diizinkan kembali menjemput mereka untuk dibawa ke kota. Steinmetz menjawab bahwa Sutan Caniago telah dijadikan anak angkatnya dan tidak dapat menjanjikan lebih dari itu. Tetapi karena banyak yang menyokong permintaan Tuanku, akhirnya Steinmetz mengizinkan orang tua itu kembali lagi untuk menjemput keluarga.

Dengan hati yang lega Tuanku pun kembali. Malamnya ia menginap di rumah salah seorang sahabatnya yang khusus memberi jamuan makan sebagai sambutan. Tengah malam tiba-tiba pintu digedor keras. Ternyata jaksa tadi datang menyusul dari Fort de Kock, mengatakan bahwa “tuan besar” baru saja datang dari Padang dan ingin bertemu dengan Tuanku. Yang terus ke hutan untuk menjemput keluarga, ditetapkan Tuanku Sidi.

Sutan Caniago menulis dalam tambo bahwa mereka diterima sendiri oleh Jenderal Cochius dan Kolonel Michiels. Kedua “tuan besar” ini cukup ramah dan berjanji tidak akan menyulitkan keluarga Tuanku. Malah mereka meminjamkan dua perwira guna mengawal ibu dan saudara-saudara Sutan Caniago “anak kompeni”. Tetapi mengenai Tuanku sendiri, ke dua “tuan besar” tadi tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu, Tuanku Imam dibawa oleh jaksa, dengan pengawalan tentara, ke Fort de Kock. Sesudah tiga hari di sana, Residen Steinmetz mengatakan dalam suatu rapat yang dihadiri oleh para penghulu, bahwa Tuanku tidak boleh kembali lagi ke Bonjol. Harus selalu berada di dekat Steinmetz, akan diberi uang untuk belanja dan boleh ke surau untuk mengaji. Para istri boleh didatangkan kemudian. Tetapi di Fort de Kock, juga berada regent Batipuh dengan anak buahnya yang mengambil sikap kurang ajar. Regent ini menghasut agar Tuanku jangan ditahan di sana karena berbahaya. Akhirnya diputuskan mengirim rombongan ke Padang.

Maka berangkatlah lagi mereka pada suatu malam (Tuanku digotong di atas tandu), diiringi oleh banyak orang. Setiap orang ingin ikut menggotong sebab “yang berangkat itu ialah seorang raja”. Kapten garnizun mengantarkan sampai ke perbatasan. Sesampai di Padang telah menunggu sebuah kereta yang membawa Tuanku langsung ke muara Batang Arau. Tuanku bersama 4 orang pengikut disuruh naik perahu, kemudian didayung menuju Pulau Pisang. Di sana sudah menanti sebuah kapal dan mereka pun naik. Residen Francis baru muncul keesokan harinya. Dari Francis didengar bahwa Tuanku harus ke Batavia. Dia marah mengapa Tuanku tidak datang kepadanya, tetapi pada orang lain. Tuanku menjawab, dia memang datang sesudah menerima surat, tetapi Francislah yang tidak ditempat. Ternyata yang menerima ialah Steinmetz dan kapten ini mengatakan bahwa dia mewakili Francis. “Tetapi apa boleh buat. Saya sudah ditipu,” demikian kata-kata Tuanku menurut Sutan Caniago dalam tambonya . Francis menyesalkan bahwa Tuanku tidak langsung bertemu padadanya tetapi pada orang lain. Sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, demikian dituturkannya pada Tuanku.

Sesampainya di Batavia, mereka dijemput oleh “komandan” Hamzah Abdul Rauf, lalu dibawa ke kantor residen. Di sana Tuanku mendengar bahwa baginya telah ditunjuk Cianjur sebagai tempat tinggal dan mendapat tunjangan 50 gulden sebulan. Setelah kira-kira 4 bulan di rumah “komandan” itu, barulah ke Cianjur. Sesudah 8 hari di sana, Tuanku menulis surat pada residen Cianjur agar diperbolehkan kembali ke Sumatra. Tiga bulan kemudian, beliau diperintahkan untuk siap dalam dua hari untuk berangkat ke Batavia.

Di Batavia ia disuruh naik kapal lagi, tujuan Surabaya, Buton dan akhirnya Ambon. Di sana diterima residen, dijanjikan 65 gulden tiap bulan ditambah satu pikul beras. Di Ambon ia menyewa rumah kepunyaan seorang haji seharga 15 gulden sebulan. Sesudah dua tahun, Tuanku ingin pindah rumah tetapi Pak Haji marah-marah, mengeluh pada Pak Residen bahwa dia (Pak Haji) tidak bisa bertanggung jawab lagi andai kata si penyewa jadi pindah ke rumah lain. Tuanku langsung dipanggil residen dan diberitahu bahwa dia harus ke Manado. Segala protes Tuanku agar boleh berdiam di Ambon saja (karena telah terlalu tua untuk pelayaran jauh), tetapi tidak berhasil.

Tiga hari di laut, kemudian sampai di Ternate. Berlabuh 3 hari di sana, bertemu Raja, berlayar lagi. Akhirnya sampai di Manado, menginap 4 bulan di rumah Letnan Melayu (Residen tidak mau menerima), kemudian disuruh berangkat ke Kombi. Setelah delapan bulan di dusun ini, karena udara sangat dingin Tuanku minta dipindahkan lagi ke Manado. Izin tidak diterima tetapi boleh memilih antara Lota dan Tomohon. Dipilihnya Lota. Ternyata rumah telah disiapkan untuk beliau bukan di sana, malah di Koka. Tinggal di sini lebih kurang setahun, kemudian minta izin membeli tanah dan berdiam di Lota. Izin diberikan, namun sewaktu rumah telah selesai, dia tidak diperbolehkan meninggalkan Koka oleh residen.

“Kebetulan” gubernur Belanda di Ambon mengadakan perjalanan keliling ke Manado, Kombi dan Lota. Pada “tuan besar” inilah Tuanku mengeluh telah rugi membeli tanah dan membuat rumah, tetapi tidak diizinkan pindah. Sedangkan pembelian tanah dan pembikinan rumah itu, sebelumnya telah diizinkan. Begitu juga izin mendiaminya jika telah selesai. Akhirnya Tuanku diizinkan pindah ke Lota. Ia tinggal di sana selama kira-kira 10 tahun hingga meninggal tanggal 6 November 1854 dalam usia lebih dari 80 tahun. (Missive Res Manado, 13 Nov. 1854, No. 1847). Tiga tahun sesudah meninggal, anak dan kemenakan beliau diizinkan kembali ke Bonjol.