Limapuluh Kota,Beritasumbar.com-Keindahan alam Limapuluh Kota yang terkenal seakan mulai hilang. Hijaunya hamparan perbukitan barisan mulai terkikis. Pembukaan lahan pertanian baru membuat hutan di Luak Nan Bungsu ini makin menyusut. Belum lagi kebakaran lahan dan hutan yang saat ini sering terjadi.

Dimana mana saat ini pembukaan lahan baru untuk pertanian sudah menjadi biasa. Tebang,babat bakar sudah tak jadi yang asing lagi di daerah ini. Sementara pemerintah menggencarkan penyelamatan lingkungan dengan semboyan jaga sumber hayati dan hewani.

Akhir akhir ini kebakaran hutan dan lahan sekan jadi kosumsi rutin pihak damkar. Setiap hari Damkar Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh meraung raung keluar sarang untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di daerah ini.

Hutan yang menjadi paru paru dunia dan tempat penympanan sumber air alami ini sudah banyak berubah fungsi. Kalau musim kemarau datang debit air yang mengalir di sungai sungai yang ada di daerah ini menyusut tajam. Belum lagi kegersangan lahan dan belukar.

Lahan belukar yang gersang sangat mudah memicu kebakaran hutan. Sedikit saja kelalain warga ratusan hektar lahan punah di lahap sijago merah. Hanya menyisakan hamparan arang dan abu bekas kebakaran saja.

Sementara untuk menghijaukan kembali lahan butuh waktu lama. Tidak secepat menebang apalagi membakar hutan. Puluhan tahun menanti baru hamparan hijau itu bisa kembali terwujud. Dan selama itu keadaan gersang dengan segala resiko bencana menanti. Longsor dan banjir sudah dipastikan siap mendera ditambah kekeringan saat kemarau.

Mengingat kondisi seperti ini sudah saatnya Pemkab Limapuluh Kota bersama instansi terkait melakukan dan menerapkan aturan aturan yang berlaku akan hutan di daerah ini. Apalagi Kepala daerah yang belum lama ini di lantik mengusung misi Harau to the world. Yang mana kunjungan wisatawan menjadi salah satu target utama. Limapuluh Kota selama ini di kenal dengan keindahan alam perbukitan dan banyaknya air terjun nan indah.

Dengan kondisi hutan saat ini yang mulai kritis,Air terjun mulai kekeringan saat kemarau datang.Sementara pemandangan hijau berganti hamparan lahan baru. Memang sulit untuk menutup langkah masyarakat membuka lahan,tapi pemkab juga harus mengambil kebijakan kebijakan melalui terda dengan mengatur tata cara pembukaan lahan dan penebangan kayu. Ujar Ady Surya SH. Ady Surya SH yang seorang praktisi hukum di Sumatera Barat dan putra Luak Limopuluah ini merasa prihatin dengan kondisi hutan Limapuluh Kota yang semakin hari semakin kritis.

Saat ini dua pertiga wilayah Limapuluh Kota menurut peta kehutan 2013 adalah hutan Lindung. Tapi sulit menerapkan aturan baku akan hutan lindung. Sumatera Barat juga punya hukum adat yang di mana tidak ada lahan atau tanah tidak bertuan. Disini hukum yang di berlakukan terhadap kawasan konservasi akan berbenturan dengan hukum adat.

Kedepan Pemkab Limapuluh Kota bersama instansi terkait harus gigih mengusahakan perubahan peta kawasan konservasi. Alangkah bagusnya tapal batas hutan lindung bisa di kembalikan ke yang lama. Agak lucu dan prihatin juga kita melihat pemukiman warga masuk kawasan hutan lindung cerita Ady Surya saat bincang bincang dengan Beritasumbar.com.

Perubahan tapal batas ini juga harus di iringi dengan aturan aturan daerah yang mengatur pola tebang pilih dan batasan buka lahan baru.