Sulit dipungkiri bahwa peristiwa kudeta yang gagal di Turki melahirkan euforia yang sangat besar, baik didunia barat maupun dunia islam. Gaunungnya menggema seantero negeri, menyedot perhatian dari banyak khalayak hingga beberapa pekan. Hal seperti ini umumnya terjadi pada gelaran akbar Piala Dunia atau turnamen besar sejenisnya. Namun untuk peritiwa politik, tidak banyak yang mampu menyulut histeria massa. Mungkin hanya peristiwa Revolusi Islam Iran dibawah komando Khumeini dan Ali Syari’ati yang hingar bingarnya layak disejajarkan dengan peristiwa kudeta di Turki. Kira – kira, apa penyebabnya?

Pertama, Kuatnya Kepentingan
Peristiwa kudeta Juli 2016 menjadi ajang pertaruhan besar bagi banyak kepentingan. Bagi Turki, keberhasilan membungkan kudeta akan mengokohkan proses demokratisasi dan peneguhan supremasi sipil diatas militer. Harap dipahami, bahwa Turki memiliki siklus kudeta sepuluh tahunan. Sebelumnya, pihak militer selalu kompak mendukung proses kudeta tapi kali ini militer terpecah. Sebelumnya, rakyat cenderung diam dan pasif terhadap terjadinya kudeta tapi kini mereka melawan secara aktif, atraktif dan demonstratif. Alhasil, Turki melangkah maju dimana kedaulatan rakyat tidak lagi dikangkangi (didikte) oleh militer.

Keberhasilan Turki mematahkan kudeta militer juga menimbulkan kekhawatiran besar bagi barat. Mereka menangkap sinyalemen kuat bahwa era Erdogan akan bermuara pada bangkitnya Imperium Islam “The New Ottoman”. Jika pun tidak terwujud pada masa Erdogan, minimal dia telah melapangkan jalan menuju kesana untuk diteruskan kepada pemimpin berikutnya. Pemimpin eropa khawatir bahwa pengaruh Turki kepada kaum muslim Sunni akan seperti pengaruh Iran kepada kaum Syiah. Padahal di Eropa dan Amerika, Islam mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dalam kacamata internasional, kaum muslimin sebesar 1,7 Milyar hanya butuh dukungan figur pemimpin internasional yang kuat untuk melakukan revolusi tatanan global.

Disisi lain, keberhasilan Turki mematahkan kudeta militer seolah mewujudkan harapan baru akan lahirnya pemimpin global bagi komunitas muslim. Jikapun statusnya belum bisa terlegitimasi secara politik (berbai‘at dalam bingkai Daulah Islamiah), setidaknya bisa membawa negara muslim lain menjadi negara protektorat Turki atau negara persemakmuran Turki. Dulu, Inggris melakukan peran itu kepada banyak negara bekas jajahannya. Sekarang, Turki mencoba melakukan peran yang sama bagi kaum muslimin di Gaza, Uighur, Rohingya dll, karena perasaan senasib sebagai sesama muslim. Sejauh ini, kita tidak mengendus kepentingan yang lain dalam bantuan yang diberikan Turki kepada negeri – negeri muslim selain sebagai bentuk pengamalan ayat “Innamal mu’minu ikhwah”.

Kedua, Ajang Pembuktian
Apapun fenomena yang terjadi di Turki, menjadi eksperimen sosial politik yang bersifat terbuka. Semua pihak bisa membuat premis dan asumsi, namun pada akhirnya semua akan diuji dengan kondisi dan fakta dilapangan. Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa banyak paham dan konsep sosial politik yang dipertaruhkan terhadap dunia islam. Diantaranya, paham bahwa politik islam sudah habis. Maksudnya tidak laku, terbelakang dan tidak akan bisa bersaing dengan politik sekuler. Apa yang terjadi di Turki sedikit mematahkan premis tersebut. Bedanya, dahulu perjuangan politik islam nyata dilakukan oleh partai berpaham islam, sekarang perjuangan nilai keislaman melalui jalur politik dilakukan dengan kendaraan sekuler (baca : nasionalis).

Ada juga paham yang menegaskan bahwa dunia semakin lama semakin sekuler. Dalam tatanan sosial, paham ini sudah dibantah dengan teori “Desecularization of The World”. Dalam tatanan keyakinan, ada nubuwah kejayaan dari nabi bahwa jelang hari kiamat “Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwah akan kembali tegak. Namun, dalam tatanan politik seolah semua jalan terasa buntu karena banyaknya tangan – tangan kotor yang bermain. Fenomena yang terjadi di Turki sedikit banyak membantu kita memahami bagaimana Desecularization of The World dalam tatanan politik berproses.

Ada juga paham yang menihilkan (mengharamkan) proses perubahan sosial melalui jalur pemerintahan. Karena dianggap sebagai bentuk persetujuan dan sarana kompromi terhadap hukum thaghut. Tentu saja perdebatannya panjang, lebar dan melelahkan. Ekstrimnya : “Anda punya dalil kami juga punya dalil. Anda punya ulama, kami juga punya ulama”. Pokoknya rumit lah. Tapi fenomena yang terjadi di Turki menunjukkan bahwa eksperimen politik islam di negeri paling sekuler sekalipun ternyata membawa hasil. Sebagaimana perjuangan rasulullah memperbaiki akhlak di kawasan dengan tabiat penduduk paling kasar sekalipun (jazirah arab, khususnya quraisy) ternyata juga berhasil.

Ketiga, Pemicu Kebangkitan
Beberapa tahun kemarin, ada harapan besar bangkitnya islam didunia dengan fenomena “Arab Spring”. Dimana rejim diktator pada beberapa negara islam timur tengah berubah menjadi rejim demokratis. Harapan terbesar disematkan dipundak Mesir sebagai negara besar yang pernah menjadi tulang punggung utama dalam perang Arab – Israel. Namun, harapan itu bertahan hanya seumur jagung karena maraknya intrik politik, makar (kudeta) dan kekerasan (bangkitnya ideologi Khawarij, ISIS). Keberhasilan Turki menjegal kudeta militer memberikan sinyalemen bahwa negaranya siap untuk memainkan peran internasional, bukan hanya dalam tataran diplomasi tapi juga aksi militer.

Diluar Turki, fenomena tersebut berpotensi bisa menjadi pemicu kebangkitan besar bagi umat islam. Banyak mata yang terbuka, banyak pikiran yang tercurah dan banyak harapan yang disematkan agar negeri mereka bisa seperti Turki, agar pemimpinnya bisa seperti pemimpin Turki, agar rakyatnya bisa seperti rakyat Turki. Sebenarnya ini adalah proses yang alamiah, dimana setiap masyarakat akan melakukan proses modernisasi untuk mengejar ketertinggalannya. Berhubung saat itu obor peradaban ada dibarat, maka proses modernisasi jadi bias dengan westernisasi. Saat ini, diinternal umat islam ada obor yang menyala terang. Sehingga proses modernisasi bisa tetap dalam konteks islamisasi. Bukankah rasulullah berwasiat “Al mu’minu mir-atul mu’min?

Indonesia adalah negara dengan komunitas muslim terbesar didunia. Hanya saja, kondisinya diibaratkan sebagai raksasa tertidur, dengan durasi yang lama melebihi tidurnya para pemuda ashabul kahfi. Jangankan untuk membantu komunitas muslim di rohingnya atau Mindanau yang masih satu kawasan, untuk sekedar membela kaum muslim dinegerinya sendiri juga masih terseok tertatih. Butuh kerja keras untuk membangunkan sekaligus melatih raksasa tidur ini agar bisa memainkan peran – peran penting dipercaturan global. Fenomena yang terjadi di Turki semoga bisa menjadi inspirasi bagi para aktivis pergerakan islam di nusantara.

Khatimah
Rasulullah bersabda “Al Mu’minul qawiy khairu wa ahabbu ilallaah minal mu’minidh dha’if, wafii kulli khair”. Mari kita berfikir out of the box, dimana hadits tersebut tidak hanya kita pahami dalam skala personal tapi juga dalam skala negara. Bahwa negara mukmin yang kuat itu juga lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah ketimbang negara mukmin yang lemah, meski pada keduanya ada kebaikannya. Munculnya satu atau dua negara mukmin yang kuat, apalagi berstatus sebagai negara superpower, adalah impian kaum muslimin diseluruh dunia. Saat ini, Turki sudah mentahbiskan diri sebagai negara mukmin yang kuat, baik dari tekanan Eropa maupun makar militer dalam negeri. Kerajaan Arab Saudi sepertinya juga tengah berproses menuju kesana. Semoga, Indonesia juga tengah menuju arah yang sama, yakni menjadi negaranya kaum mukminin yang kuat.

Dengan berbagai fenomena dan prediksi dimasa mendatang, wajar saja jika kudeta di Turki mengembuskan euforia yang hangat dikalangan pemerhati islam. Negara barat membicarakannya karena khawatir menjadi menyulut “Islam Rising”. Kaum sekuler membicarakannya karena takut dominasinya akan terguling. Kalangan aktivis dakwah membicarakannya karena memiliki harapan menjadi fajar baru kebangkitan islam. Jika saat ini kita juga banyak berkomentar dan berpolemik seputar Turki, kira – kira dimana posisi kaki kita berdiri? (Eko J)