Payakumbuh,BeritaSumbar.com,-Beberapa minggu ini, Enjel menjadi viral di jagad media sosial. Pemilik akun facebook Angel Cry ini tampil dengan menggunakan Bahasa nagarinya saat mengomentari fenomena sosial di sekitarnya. Perempuan asal nagari Koto nan Godang ini memperlihatkan kebanggaan atas identitas sosial dan budayanya. Hal ini menjadi menarik di tengah lemahnya identitas kultural generasi muda Indonesia.

Masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah masyarakat bilingual. Dua Bahasa yang selalu berdampingan adalah Bahasa daerah untuk kepentingan interaksi non-formal dan Bahasa Indonesia untuk interaksi formal. Namun saat ini bahasa asing seperti Bahasa Inggris hadir di ruang publik dan juga pada media massa. Ini merupakan hal yang tak dapat dihindari. Untuk menyikapi realitas ini pemerintah menghimbau agar masyarakat Indonesia mengutamakan bahasa Indonesia disamping terus melestarikan bahasa daerah. Selain dari pada itu, masyarakat juga diminta untuk menguasai bahasa asing. Hal ini sudah tepat jika kita mengidentifikasi diri sebagai bagian dari masyarakat global.

Saat ini, realitas yang dijumpai dari prilaku berbahasa ini cukup menarik. Orang Indonesia, tidak semuanya, merasa minder menggunakan bahasa daerah mereka. Beberapa bahkan malu akan bahasanya sendiri dan tidak mau terdengar oleh orang lain misalnya di kantor atau di pasar. Namun mereka merasa bangga menggunakan bahasa-bahasa asing dari pada bahasa Indonesia. Beberapa gedung pemerintah dan fasilitas umum pun ada memakai bahasa Inggris. Kebanyakan penamaan siaran televisi dan rubrik-rubrik media menggunakan bahasa Inggris. Iven-iven lokal bernuasa kultural pun keinggris-inggrisan. Plang nama dan merek-merek produk dalam negeri pun dilabeli dengan bahasa asing. Satu hal yang menjadi alasan dari prilaku tersebut adalah mereka merasa bangga dan merasa lebih keren. Namun jika ditanyakan apa maksud dari istilah-istilah asing itu, mereka juga tidak begitu paham. Hal yang lebih menarik adalah anak Indonesia yang bersekolah di sekolah internasional. Mereka sudah mulai berbahasa Inggris di rumah, di sekolah dan pada komunitasnya. Namun mereka juga susah dimengerti oleh penutur asli bahasa Inggris dan menyebut bahasa Inggris mereka sebagai broken English atau foreign English.

Kenyataan lain dapat dibandingkan dengan bangsa lain. Sewaktu berkunjung ke Kuala Lumpur, anak-anak Melayu di sana lebih bersenang hati jika berinteraksi dengan Bahasa Inggris. Hal ini bukan terkait dengan kecakapan berbahasa namun bahasa yang dipilih mencerminkan di kelas sosial mana seseorang berada. Prilaku yang sama juga ditunjukan oleh beberapa orang Filipina. Kecakapan berbahasa Inggris menjadi indikator penting bagi status sosialnya. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar pembelajaran di sana. Hal yang sama juga terjadi pada negara-negara bekas jajahan Inggris atau Amerika lainnya, seperti India atau Srilanka. Namun kenyataan berbeda dapat kita lihat pada bangsa Cina yang tinggal di Australia dan Amerika. Orang tua dari anak-anak Cina pada umumnya berbahasa Cina jika berinteraksi dengan anaknya. Mahasiswa Cina sesama Cina hampir selalu terlihat berbahasa Cina. Jika saya berkunjung ke Box Hill, sebuah daerah di pinggiran kota Melbourne, terdengar Bahasa Cina di mana-mana, plang-plang toko berbahasa Cina, nama-nama gedung berbahasa Cina, dan petunjuk-petunjuk arah dalam Bahasa Cina. Jika anda berada di sana, mungkin anda tidak merasa berada di Australia. Cina memiliki identitas yang kuat selain saat ini sangat berpengaruh di mata dunia.

Enjel cukup mengejutkan. Kehadirannya cukup kontras dengan tempat wisata di Lembah Harau yang menyuguhkan nuasa-nuasa Eropah. Sebuah pohon mati dilatarbelakangi oleh gedung pesantren Insan Cendikia itu sedikit mengesankan musim gugur di negeri barat. Baru-baru ini taman bermain di tempat yang sama menghadirkan ornamen bangunan ala Eropah lengkap dengan kincir angin, menara Eiffel, dan kanal-kanal seperti di Amsterdam. Banyak orang pergi ke sana dan berfoto, lalu memajangnya di media sosial. Beberapa kuliner ala barat juga dijual di sana. Begitu bangganya. Kemudian Enjel melawan itu dengan kekentalan logat Koto nan Godang dan ‘lomang’ sebagai produk kulturnya. Beberapa video Enjel mengkritik prilaku masyarakat yang tidak tahu di untung; mereka yang malu tampil apa adanya; mereka yang merasa diri lebih hebat atau ‘naka-naka.’ Dalam setiap video Enjel, jangankan penggunaan istilah kebarat-baratan, atau keJakarta-jakartaan, istilah bahasa Minang pasar pun nyaris tidak ada. Bahkan dalam video siaran langsungnya di pusat kota Payakumbuh, Enjel selalu berbahasa kental Koto Nan Godang. Percaya diri yang luar biasa untuk realitas masyarakat Minangkabau umumnya. Penghadiran lomang dalam setiap video Enjel pun memberikan makna yang cukup dalam seperti ungkapan “godang jaso lomang” (lemang memiliki jasa yang besar terhadap dirinya). Ini adalah pukulan telak bagi beberapa orang yang malu akan identitas aslinya dan menyembunyikan jati dirinya apalagi jika tergolong kelas menengah ke bawah.

Enjel berhasil menunjukkan betapa dia bangga akan jati dirinya terutama dalam menggunakan bahasa dan berekspresi dalam bingkai kulturnya. Pada beberapa video, seperti pantak doghe, pacu kudo, dan bermantel, terlihat bahwa Enjel menggunakan konsepsi lokal dalam menilai realitas. Sebaliknya, kecendrungan generasi sekarang menilai realitas menggunakan persepsi global sehingga mereka merasa rendah jika memandang dirinya dan kulturnya. Hal lain yang juga menarik dari video-video Enjel adalah bagian koda atau penutup yang mencerminkan kekhasan retorik Koto nan Godang. Mengkofirmasi tesis dengan kekuatan intonasi.[]

oleh : Nofel Nofiadri

*Penulis adalah dosen UIN Imam Bonjol Padang, mahasiswa doktoral Deakin University Australia.

 

loading...