Kalender di belakang mimbar yang sudah di tulis ulang seiring renovasi masjid
Payakumbuh, BeritaSumbar.com,-Masjid Arsyad Nankodok Kel Tigo Koto Dibaruah Payakumbuh Utara merupakan salah satu masjid tua di Kenagarian Koto Nan Gadang. Masjid ini didirikan di akhir 1920an. Syech Haji Jafar, nama Ulama yang merintis pendirian Masjid ini.
Menurut cerita Tetua kampung ini, Buya Jafar mendirikan masjid setelah beliau pulang dari tanah suci. Cerita menariik dari Syech H Jafar ini ke Makkah dengan berjalan kaki dan berbekal sedekah masyarakat. Sekitar 9 Tahun perjalanan beliau dalam menunaikan Ibadah haji tersebut.
Peninggalan beliau di dalam masjid sampai saat ini yang bisa kita lihat yaitu kalender lama yang menurut pengurus berlaku selamanya alias seumur hidup. Kalender ini berguna untuk menentukan awal ramadhan dan hari raya. Ditulis dalam ejaan Arab. Dahulu kalender di tuliskan didinding Masjid seperti ukiran pada tembok. Seiring dengan renovasi masjid, Kalender ditulis ulang dan di tempel ditempat yang sama.
Saat ini Masjid Arsyad terus berbenah dengan target dua lantai. Hal ini dilaksanakan seiring dengan pertambahan penduduk dan kondisi masjid yang berada di pinggir jalan lintas Sumbar-Riau. Sehingga memudahkan kaum Muslimin yang melakukan perjalanan singgah untuk menunaikan ibadah Sholat.
Bahkan tidak sedikit pada saat Lebaran para musafir jalur ini memanfaatkan pekarangan masjid untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Muzamil Tuangku Malin Gindo merupakan imam tetap di mAsjid yang terletak di jalan Soedirman, Nan Kodok kelurahan Tigo Koto Dibaruah, dengan Pengurus yang diketuai Mirwan Tanjung.
Di malam kedelapan bulan Ramadhan, tepatnya Ahad (12/5) ustadz Yusral Fuadi bertindak sebagai pentausiyah di masjid ini.
Dihadapan ratusan jemaah, ustadz Yusral Fuadi dalam tausiyahnya berjudul “Golongan Orang Berbuatan Abrar” yang diambilkan dasar dari al quran surat Al Insan.
Diterangkan Yusral Fuadi, adalah orang orang yang tergolong Abrar (berbuat Kebajikan) sebagai berikut :
1. Memenuhi nadzar, sesuatu janji yang diucapkan dengan adanya harapan. Nadzar adalah yang wajib dipenuhi, bukan dijadikan mainan
2. Manusia yang takut akan hari akhirat. Hari akhirat tiada tebang pilih. Kalau Allah sudah datangkan akhirat semua manusia dilandanya, tak pandang pejabat. Orang Abrar lebih takut kepada Allah dibanding manusia dalam kebenaran.
3. Orang yang memberikan makan kesukaannya kepada orang miskin, anak yatim dan tahanan. Posisi anak yatim diperhatikan, bukan melengahkan anak piatu. Beban piatu tak kalah penting dibandingkan yatim.
Problema di Minangkabau saat ini adalah derita anak piatu. Karena itulah, MUI Kota Payakumbuh tegaskan bahwa anak yatim dan piatu, diperhatikan sama.
“Sesungguhnya kami menafkahkan makanan kepada kalian, karena itu adalah hak kalian. Dan kami hanya harap dengan Allah, bukan mengharapkan terima kasih dan pujian dari kalian,”Yusral Fuadi memotivasi.
Di mesjid Arsyad Nan Kodok tampak 4 shaf makmum laki-laki dan 6 shaf jemaah perempuan. Shalat tarwih dengan 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir yang diimami Muzamil.
Pengurus gelar lelang dan goro.
Mengingat seringnya mati lampu, ketua pengurus mesjid Arsyad ,Mirwan Tanjung gelar lelang bola lampu sebagai penerang saat shalat. Pengurus lelang 35 bola lampu saving power dengan harga Rp 60 ribu / buahnya. Kesempatan itu terkumpul 10 donatur tunai.
Usai menggelar lelang, pengurus menghinmbau jemaah dan Remaja Masjid (Risma) untuk jangan pulang dulu, usai qiyamul lail.
“Berhubung tukang sedang mengerjakan pembangunan di lantai 2. Untuk itu, mari kita bantu memperlancar kerjaan mereka dengan menggorokan pendistribusian dari halaman mesjid batu bata ke lantai 2. Selain itu, Risma juga akan menggelar lomba Bedug tanggal 2 Juni 2019, mendatang,”pungkas Mirwan Tanjung.(*)
loading...