BeritaSumbar.com,-Apa rasanya jauh dari keluarga, jauh dari tanah kelahiran, sanak famili, handai tolan, teman, bukan untuk bertamasya, tapi demi sebuah keyakinan, harga diri dan perjuangan. Tidak bagi kepentingan diri sendiri melainkan untuk orang banyak, diasingkan karena dianggap berbahaya dan menjalani hukuman? Ditangkap setelah dijebak? Dipisahkan beribu-ribu kilo oleh laut luas, Peto Syarif yang kemudian digelari dengan sebutan Imam Bonjol menjadi cerita sejarah panjang tersendiri dengan segala dinamika dan juga tidak terlepas dari sisi kontroversialnya dalam kesejarahan Indonesia. Kadangkala ada yang melihatnya secara gelap, remang-remang, seperti berada di rumah orang lain saat lampu mati.

Namun tentu dapat dibayangkan setidaknya sebuah perjalanan yang ketika itu belum ada mobil apalagi pesawat udara. Ia diseberangi dengan menggunakan kapal laut yang lamban. Jika kini saja normalnya dari Padang (BIM) ke Jakarta (Cengakareng) membutuhkan waktu 1 jam 20 menit apabila naik pesawat udara, atau setara 3 hari dua malam jika menggunakan jalur darat (kendaraan roda empat).

Kemudian jika kembali menggunakan transportasi pesawat udara dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Sam Ratulangi membutuhkan waktu lebih kurang tiga jam, jika lewat darat saya tidak tahu persis berapa lamanya. Yang saya tahu pada saat perjalanan Imam sangat membutuhkan waktu yang lama, berbulan.

Ditemani oleh seorang pengawal yang bernama Apolos Minggu, selalu setia merawat, mengurusi Sang Imam hingga berpulang. Menurut Nurdin Popa (56) keturunan ke lima Apolos Minggu mengungkpan bahwa ia tidak mengetahui secara pasti kakek buyutnya berasal dari mana, apakah berdarah Minang atau etnik lokal lain yang ada di Manado saat sekarang ini, seperti Minahasa, Sangir atau etnik lainnya.

Jika dilihat dari nama tersebut tentu akan sulit ditemui nama seperti itu pada kebanyakan nama orang Minang atau memang orang Minang yang kemudian sengaja menukar namanya agar dapat bertahan hidup dan kemudian dapat menikahi perempuan lokal setempat, dalam tanda tanya.

Awalnya, daerah di sekitaran tempat diasingkannya Imam merupakan sarang endemik malaria, sehingga tidak elok untuk tempat tinggal, Sang Imam terus naik ke arah perbukitan sampailah pada sebuah tempat yang dipilih, kemudian menjadi nama daerah sekarang ini yaitu Pineleng yang berarti ‘pilihan’.

Di daerah ini kita akan menemukan makam Sang Imam yang beratapkan gonjong layaknya rumah lama orang Minang. Tepat di belakangnya ada puluhan anak tangga yang menurun ke arah sungai. Tapat di tepinya ada sebuah bangunan yang berukuran sedang yaitu tempat dimana ada sebuah batu yang diketahui tempat salatnya Imam semasa hidupnya saat diasingkan. Pak Nurdin menceritakan, tiap waktu solat Imam turun ke bawah untuk melaksanakan solat di atas batu tersebut.

Sembari menyeruput kopi panas, Pak Nurdin begitu antusias dan sangat baik menjamu setiap orang yang datang ke sana untuk ziarah. Apalagi mengetahui kami berasal dari daerah kelahiran Sang Imam. Pada cengkrama dan diskusi tak lama itu, terasa sejuk hawa air sungai mengipas-ngipas udara yang panas, merasuk pada jiwa yang membuat rasa damai dan tenang, gemercik air seperti bunyi suara dari doa-doa yang keluar melalui mulut-mulut orang-orang yang berdoa pada Tuhannya, al-fatiah untuk Sang Imam. Diasingkan, terasingan, asing hanyalah persoalan sudut hati saja karena jiwa punya tempatnya sendiri untuk menemukan taman bermain.(*)

Lismomon Nata Sultan Kayo

Manado, 2018