Padang Pariaman, beritasumbar.com ,-Santri harus melek politik. Politik dijadikan alat untuk kecerdasan, bukan untuk perpecahan dan saling menyebar ujaran kebencian, serta fitnah. Lewat politik pula, bisa dibedakan mana informasi yang benar dan mana pula yang hanya sekedar isu atau fitnah. Di tengah tahun politik, berbagai informasi dengan sangat mudahnya berserak di tengah masyarakat.

Demikian sekelumit hasil diskusi publik yang digelar Organisasi Santri Intra Pesantren (OSIP) Pondok Pesantren Madrasatul ‘Ulum Lubuk Pandan, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung, Padang Pariaman, Jumat (11/1) malam lalu. Diskusi mengangkat tema “Ulama dan Santri dalam Pusaran Politik” menghadirkan narasumber tiga alumni pesantren itu yang saat ini berkecimpung dalam politik praktis.

Ketiganya, Tuanku Afredison, alumni yang saat ini menjabat Sekretaris DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Padang Pariaman yang juga Caleg di Dapil empat daerah itu. Selanjutnya, Asrizal Malin Sinaro, alumni yang sedang melabuhkan politiknya di DPD PKS Kabupaten Agam, dan jadi Caleg untuk DPRD daerahnya. Kemudian, Mansurdin Datuak Paduko, alumni Madrasatul ‘Ulum yang maju jadi Caleg DPRD Kabupaten Sijunjung dari PPP.
“Yang paling penting itu, aqidah kita selaku santri dan orang yang dibesarkan di pesantren, jangan sampai berganti menjadi aqidah yang dibawa oleh partai politik,” kata Afredison.

Menurut dia, antara politik dan partai politik adalah dua hal berbeda tapi saling terkait. Orang politik tak melulu terlibat dalam partai. Bahkan banyak orang hebat dalam politik yang tidak masuk dalam struktur partai politik itu sendiri. “Yang penting partai politik yang kita masuki rancak, dan partai politik yang dimasuki orang lain belum tentu salah,” ulas dia.

Sementara, Asrizal Malin Sinaro yang juga ustad kondang di Kabupaten Agam ini mengajarkan, bahwa beragama harus berpolitik. Kalau tidak berpolitik Rasul dulunya, mustahil Islam akan sampai ke generasi saat ini. “Hebatnya dunia politik itu, ketika telah menguasai suatu daerah atau negara, hanya dengan ceraik kertas melakukan himbauan, langsung dapat respon. Jadi politik itu penting, bagian dari sarana untuk mencerdaskan kita kaum santri,” ujarnya.

Lain halnya Mansurdin Datuak Paduko yang maju di PPP di salah satu Dapil di Kabupaten Sijunjung. “Kalau santri ikut main politik jangan sampai ilmu dan amalnya tergadai. Jadilah sebagai orang yang mampu mewarnai jalannya partai politik yang kadang-kadang menyimpang dari garis perjuangannya,” sebutnya.

Terkait dua kontestan calon Presiden dan Wakil Presiden; Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo Sandi, para narasumber yang alumni ini selalu memberikan pencerahan. Secara partai, PKS yang partainya Asrizal memang mendukung Prabowo-Sandi. Sedangkan partainya Afredison dan Mansurdin; PKB dan PPP yang berbeda, tetapi sama-sama pendukung petahana Jokowo-Ma’ruf.

“Silakan pilih sesuai petunjuk dan keinginan hati masing-masing,” kata mereka. Yang jelas, kedua calon Presiden punya kelebihan dan kekurangan. Jangan sampai informasi yang salah dan saling menjelekkan yang sampai ke ponsel, lalu diteruskan, dan terus berantai, sehingga menyesatkan.

Mereka mengajak para santrinya untuk bermedsos secara cerdas dan mencerdaskan. “Sebagai tekhnologi informasi, jelas keberadaan HP pintar membawa manfaat dan juga madharat. Di sinilah kecerdaskan kita dituntut. Jangan ikut menjelekkan. Tak ada manusia yang sempurna, termasuk dua calon Presiden yang akan berlaga pada April mendatang,” ungkapnya. (bus)

loading...