Bukittinggi, BeritaSumbar.com,– Pasangan Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias serta Wakil Wali Kota Irwandi diprediksi banyak kalangan, tidak akan bergandengan lagi untuk periode kepemimpinan 2020-2025. Terutama melalui jalur perseorangan atau jalur independen.

Yuuk Ikut: Polling Bakal Calon Walikota Bukittinggi Di Pilkada Serentak 2020

Sebagaimana diketahui, pemilihan umum (pemilu) kepala daerah akan kembali dihelat tahun 2020 mendatang. Kendati begitu, Ketua KPU RI Arief Budiman menuturkan proses tahapannya akan bergulir September 2019. Kini, penyelenggara pemilu sedang merumuskan peraturan dan petunjuk teknis pelaksanaannya.

Sekretaris Persatuan Pedagang Pasar Lereng (P3L) Bukittinggi, Engky Evon menyebut pasangan petahana Ramlan-Irwandi hingga tahun keempat kepemimpinannya memang masih terlihat adem-adem saja. Tidak ada riak perpecahan diantara keduanya yang diketahui publik.

“Saya melihat keduanya sangat akur. Masih tampak berbagi dalam momen seremonial, kegiatan dinas, maupun agenda-agenda pemerintahan. Tidak sedikit pula momen keakraban keduanya tertangkap bidikan kamera. Rasanya tidak ada yang berubah,” ujar Engky dihubungi beritasumbar.com Minggu sore (23/6).

Meskipun begitu, dalam suatu diskusi ringan, pengamat politik Universitas Andalas, Asrinaldi menyangsikan keduanya akan kembali berpasangan pada pemilu yang akan datang.

Menurut Ketua Program Studi Magister Ilmu Politik itu, fakta sejumlah partai politik (Parpol) mulai mendekati sosok Ramlan tidak dapat lagi dipungkiri, karena kemenangannya melalui jalur independen menarik banyak pihak. Buktinya baru beberapa tahun memimpin, sudah diundang langsung berdiskusi oleh mantan presiden SBY.

“Maka menjadi jelas, jika ada salah satu saja yang dipinang partai, maka tentu pasangannya akan diusulkan oleh pihak partai. Mau tidak mau, karena Ramlan Nurmatias akan berpikir pragmatis, dimana kesempatannya tersisa satu periode, maka partai mana saja yang meminangnya dengan tawaran yang menggiurkan, maka disanalah kapalnya berlabuh,” ungkapnya.

Asrinaldi menegaskan, pasangan kepala daerah yang memimpin lewat jalur independen akan maju untuk kedua kalinya dengan jalur serupa adalah kasus yang jarang sekali terjadi.

“Secara pragmatis, langkah ke depan setelah memimpin di suatu kabupaten atau kota, akan memikirkan jadi gubernur, atau jadi wakil di DPR pusat. Tentu mereka akan mencari jalan, melalui partai politik yang bersedia mengakomodir langkah tersebut,” beber mantan Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unand ini.

Faktor lain, sambung Asrinaldi, jika posisi Wakil Walikota selama periode lima tahun belakangan ini tidak terlalu mempengaruhi pandangan negatif publik, maka kemungkinan Irwandi yang sadar akan posisinya (tidak digandeng lagi oleh Ramlan) juga akan ikut bertarung.

“Pertanyaannya adalah pasangannya siapa, kemudian partainya apa,” imbuh Asrinaldi.

Menurutnya, secara historis kepemimpinan di Kota Bukittinggi, tokoh yang dipercaya dan direkomendasikan oleh para datuk pimpinan suku, sangat menentukan siapa yang akan memenangkan kontestasi politik.

“Bukittinggi cukup dinamis. Tokoh cukup banyak. Ditambah lagi kekuatan modal dari para perantau. Maka, opsi penantang akan segera bermunculan baik itu dari kalangan perantau maupun tokoh yang mengakar di daerah. Tidak tertutup juga kemungkinan, para anggota legislatif dari kelompok politisi akan ikut bertarung,” katanya.

Pada akhirnya, Asrinaldi mengapresiasi kekompakan Ramlan dan Irwandi selama memimpin Kota Bukittinggi.

“Keduanya telah berhasil menjaga perasaan konstituen. Jika pinangan partai politik berlangsung cepat, maka fokus penyelenggaraan pemerintahan akan segera tampak terganggu,” pungkasnya.

Pandangan tidak jauh berbeda datang dari tokoh pemuda Bukittinggi, Citra Kusuma. Menurutnya, kontestasi politik di Kota Bukittinggi susah ditebak dan diprediksi. Namun dia juga sepakat, Ramlan Nurmatias dan Irwandi tidak akan berpasangan lagi untuk maju dalam Pilkada 2020.

“Aroma (perpecahan kongsi) itu tentu tercium. Namun Pak Irwandi akan kesulitan bersaing untuk maju sebagai balon Wako,” ujar pegiat otomotif yang aktif di berbagai komunitas itu.

Ketika Irwandi tidak lagi maju, sambung dia, dengan catatan pasangan calon hanya ada dua, maka posisi Ramlan Nurmatias bisa terancam.

“Jika terjadi head to head antara wajah baru melawan Ramlan, maka saya yakin petahana akan kalah. Analisa di lapangan ada beberapa pendatang baru yang bakal maju seperti Erman Syafar atau Fahrizal Basir,” singkatnya.

Dimintai pendapatnya, Ketua Komisi I DPRD Bukittinggi, M Nur Idris berkeyakinan Ramlan dan Irwandi tidak akan maju dari jalur independen seperti periode sebelumnya. Dengan pertimbangan, mereka akan lebih nyaman dan sudah mengenal serta mempunyai hubungan emosional dengan beberapa petinggi partai dibanding pencalonan pada periode lalu.

“Pada kacamata partai yang ada di kota Bukittinggi, menurut saya akan banyak partai melirik Ramlan atau Irwandi karena posisi mereka sebagai incumbent.  Disamping, keduanya dianggap sudah berbuat dan berhasil membangun kota Bukittinggi selama lima tahun kepemimpinan berdua. Kalaupun karena sesuatu hal mereka berpisah untuk maju dalam pilkada nanti, saya memprediksi masing-masing mempunyai peluang hampir sama,” tegas politisi PAN itu.

M Nur Idris menyebutkan selain berbicara para petinggi dan kader partai, terdapat beberapa nama tokoh dan perantau kurai yang juga hangat dibicarakan untuk maju sebagai balon walikota atau wakil walikota. Beberapa diantaranya, diungkapkan Nur Idris, seperti; H. Buyung (pengusaha), DR. Feri Haikal (pengusaha),  Irza Raferi (Swasta), Fahrizal Basir (TNI), H. Nelson Septiadi (pengusaha), Chairunnas (pengusaha).

Sementara dari kalangan birokrat yang disebut-sebut akan didorong maju seperti Yuen Karnova (sekda Bukittinggi), Baharyadi (Kepala Bapelitbang), Melfi Abra (Kadis Pendidikan), Fery Chofa (Kadiskominfo Lima Puluh Kota).

“Kita lihat saja bagaimana nantinya, dan biarkan semua proses ini berjalan secara apa adanya,” pungkas M Nur Idris yang juga diunggulkan sebagai salah satu kandidat di Pilkada 2020. (Ref)

loading...