Kasus demam berdarah di Payakumbuh, terindikasi mengalami kenaikan. Dalam dua bulan terakhir, diketahui sudah 7 warga yang positif demam berdarah (DBD). Menyikapi kondisi yang kurang baik itu, seluruh jajaran Dinas Kesehatan Payakumbuh  all out melakukan  sosialisasi ke tengah masyarakat. Tindakan efektif bukan melakukan fogging atau pengasapan lingkungan, melainkan meningkatkan kebersihan lingkungan dan setiap rumah tangga .

“Fogging bukan menyelesaikan masalah DBD. Tapi, tindakan efektif dan prefentif, adalah memutus mata rantai jentik nyamuk DBD, dengan melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan dan disetiap rumah tangga penduduk,” ucap Plh. Kadis Kesehatan Payakumbuh  Yusfadodi, SKM, Mkes, dalam acara sosialisasi penanganan BDB di Aula Balaikota Payakumbuh, Kamis (17/10).

Sekdako Payakumbuh Ir. H. Benni Warlis, MM, yang membuka acara sosialisasi DBD, di depan Camat dan 76 Kepala Kelurahan se-Kota Payakumbuh, Pimpinan puskesmas dan sejumlah pengurus ormas itu,  mengajak warga untuk kembali kegiatan Jumpa Berlian (Jum’at Pagi Bersihkan Lingkungan) atau kegiatan gotong royong, minimal sekali sebulan. Dan terlebih penting, kata Sekdako, berdasarkan sample yang dilakukan Dinas Kesehatan,  nyaris 75% penyangkit DBD, bersumber dari lingkungan rumah tangga yang tidak bersih dan sehat.

Karena itu, seluruh kepala keluarga di Payakumbuh diajak, agar peduli membersihkan lingkungan rumah tangga, dengan menguras bak mandi, air tampungan kulkas serta dispenser.   Laporan Dinas Kesehatan, ternyata jentik  nyamuk demam berdarah, berdasarkan tinjauan ke lapangan,  banyak dalam rumah tangga penduduk, pada bak tampungan air kulkas, bak mandi yang tak dikuras serta pada tampungan air disfenser.

“Nyamuk penyebab DBD sangat cepat berkembang dalam bak mandi, meski airnya bersih. Untuk itu, keluarga yang rajin membersihkan rumah dan kamar mandi, akan terhindar dari penyakit demam berdarah atau penyakit lainnya,” kata Sekdako.